Formaci

Belajar dari Lima Bala Menular (1)

Formaci – 2 Maret lalu kita termenung sesaat, lalu kemudian terkejut sekaligus menjerit dalam hati soal kenyataan bahwa negara ini tidaklah ampuh virus corona. Di tanggal itu, Senin siang, Presiden Joko Widodo memberi pernyataan singkat, “Pagi tadi dapat laporan dari Menkes, ibu ini dan putrinya positif corona”. Resmi sudah, dua saudara kita tertular virus yang serumpun dengan SARS dan MERS, novel coronavirus 2019 (2019-nCOV).

Organisasi Kesehatan Dunia alias WHO jauh-jauh hari padahal sudah mengingatkan bila status wabah ini bukan lagi endemi atau epidemi, tapilah pandemi: penyakit dengan sebaran global dan berkelanjutan. Sayang, peringatan yang – bahkan menurut penulis Pale Rider: The Spanish Flu of 1918 and How it Changed the World, Laura Spinney – sudah kadung terlambat itu ditanggapi Menkes dengan nada kurang serius, jika tak ingin dibilang ‘melucu’. “Difteri yang begitu hebat saja kita enggak ada takutnya. Apalagi ini corona,” kata Terawan Agus Putranto tepat di hari Jokowi memberi pengumuman berkaitan masuknya virus itu ke Tanah Air. Bahkan beberapa pekan sebelumnya ia berseloroh, “warga Indonesia kebal bala”.

Bisa jadi ungkapan Terawan bertujuan baik, mendinginkan suasana di tengah kekhawatiran publik. Tapi gelagat canggung ketika ia tahu dan kerepotan bagaimana ia menangani pengidap corona yang hari demi hari angkanya mengganda, petanda bahwa kementeriannya tak gancang dan memang belum memperhitungkan dengan masak di waktu-waktu sebelumnya. Lepas dari sikap ‘membadut’ ini, pemerintah terlebih Menkes Terawan mestinya mampu memungut pelajaran dari lima bala menular, lima penyakit dengan jumlah terinfeksi dan angka kematian berdigit-digit.

“Mawar Lenten berbunga putih sebagai penawarnya”

Resep itu ditawarkan Hippocrates, seorang yang diaku ‘Bapak’ dari semua mantri dan dokter. Obat itu ia gunakan untuk memulihkan penyakit ‘aneh’, yang dalam manuskrip kuno Sankrit 500 tahun sebelum Masehi diceritakan sebagai “penyakit mematikan dengan menulari orang-orang lewat air gorong-gorong yang tercemar kotoran si pesakitan”. The Ghost Mapnya Steven Johnson menyinggung dan memperkuat ilustrasi soal ini, sepanjang sejarah Homo Sapiens, rupanya memang segala bala tak sedikit bermula dari hal-hal yang sudah terkotori tinja manusia dan hewan epizoot – binatang dalam kondisi berpenyakit yang menjalar –, begitu pula dengan wabah besar ini.

Ketika bala akbar ini melanda puluhan negara di dunia di tahun 1826 sampai 1838 atau dikenal dengan masa ‘Pandemi Kedua’, pemicunya juga demikian. Dua orang pakar pandemi kala itu John Snow serta Henry Whitehead memberi ulasan dengan nada lebih spesifik, di Inggris sendiri yang menjadi daerah terdampak saat itu, korban berjatuhan usai menggunakan dan mengonsumsi makanan dan minuman yang dicuci dengan olahan air sanitasi. Saluran pembuangan yang tak tersistem dengan baik ini, ditambah dengan kepadatan penduduk, memperlancar penyebaran penyakit ini ke mana-mana.

Ketakutan tiba-tiba mengisolasi penduduk London yang bahkan hanya merasa cemas dengan ‘momok industrialisasi’ kala itu. Mereka bingung melihat betapa banyak orang mual-mual dan muntah di jalanan yang ditandu ke rumah sakit dengan kondisi mata cekung dan warna bibir biru kecu, tak terkecuali mencium bau amis yang berasal dari tinja encer berona keputih-putihan si pesakitan. Kolera adalah sesuatu yang masih asing buat mereka. Sebab, beberapa tahun sebelum mimpi buruk itu mendadak datang menyergap, di antara kabar puluhan ribu jumlah kematian yang sudah terdengar dari sejumlah negara di Asia dan Amerika, penduduk sekaligus elit politik Inggris justru tengah bergembira menyaksikan tontonan parade militer berbau rasis sambil menampilkan kemewahan gaya hidup Britania Raya.

Kegembiraan tak berlangsung lama. Setelahnya, menurut Times cetakan tahun itu, kolera menjadi-jadi di Britania Raya dengan luar biasa ganasnya. Berdasar Peta Hantu Steven Johnson yang hampir seluruh tulisannya bersumber dari dokumen pribadi John Snow dan Henry Whitehead itu, beserta seorang penduduk lokal bernama John James sebagai korban tewas pertama di 1831, hingga pada tahun 1833 angka kematian karena kolera telah mencapai kurang lebih 20.000 jiwa di Inggris dan Wales. Tahun berikutnya dokter dan ahli mengira penyakit pandemi yang pertama-tama membidik sasarannya dengan senjata dehidrasi akut itu mereda dan bahkan yakin menghilang. Keliru. Secara diam-diam kolera masih menjangkiti dua negeri Britis itu dan memerlukan waktu setahun saja, 1848 sampai 1849, untuk membawa 50.000 jiwa ke liang lahad.

Yang syahid di medan kolera di Inggris dan negara satelitnya barangkali tak sebanyak negeri lain yang lebih dulu didera. Tapi bukankah mereka punya sejenak waktu untuk ancang-ancang entah menyiapkan apa yang sekira amat dibutuhkan ketika itu sehingga dapat memperkecil kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi kemudian? Demikian semestinya. Tapi ceritanya lain di sini. Seperti kata-kata bernada prihatin Henry Whitehead: “Isu kesehatan publik sudah barang tentu butuh kesadaran dan sokongan dana besar dari pemerintah. Namun mustahil di tempat ini, di kota dengan penguasa yang digenggam gairah korupsi (big government)”.

Dengan kata lain, pemerintahan Britis saat itu tidak mengambil langkah barang sejengkal pun setelah mendapat protes besar dari penduduk pra sejahtera dan ‘kelas ekonomi mengambang’ yang ada di kota-kota metropolitan yang paling merasakan hari-hari mengerikan akibat bakteri vibrio cholerae. Mereka benar-benar percaya diri bila infrastruktur kesehatan dan pelayanan publik sudah diberlakukan sesuai malah melampaui standar di negara-negara lain. Mereka mengolok-olok peringatan dini hasil penelitian dan anjuran para ahli pandemi macam John Snow serta Henry Whitehead yang menyebutkan bahwa “wabah kolera menjalar kemanapun disebabkan saluran pembuangan air dipenuhi sampah dan tahi dari orang-orang kaya di kota yang sudah positif tertular”. Sejarawan sains dan medis Tom Standage menulis dengan menarik perihal sikap dan reaksi pemerintah saat itu: “Alih-alih mendengarkan petunjuk para pakar dan mengubah sistem pengendalian kesehatan masyarakat, elit politik di Britania Raya justru memberi perhatian tinggi pada pertumbuhan ekonomi. Hak warga mendapat pelayanan kesehatan yang layak hanya tertempel dan terpampang pada logo dan slogan-slogan di spanduk-spanduk jalanan”.

Sama dengan tindakan pemerintah di negeri ini, di negeri yang konon “kebal bala”. Menkes Terawan merasa terhina dengan ucapan dan hasil penelitian Marc Lipsitch, seorang profesor epidomologi asal Universitas Harvard. Jauh sebelum corona menyapa Tanah Air, ia mengingatkan jika “tidak tersedianya sistem deteksi yang baik, Indonesia mungkin sebenarnya sudah ada beberapa kasus yang belum terungkap”. Pernyataan itu dijawab Terawan dengan suara keras: “Sebuah penghinaan, tidakkah peralatan medis kita sudah diperiksa Kedubes AS, malah standarnya sama dengan AS”. Di tempat terpisah, sehari setelah WHO mengumumkan corona sebagai pandemi yang harus diwaspadai semua negeri, seakan Presiden Jokowi asyik dengan dunianya sendiri: “Siapkan seluruh instrumen, baik moneter maupun fiskal untuk digunakan dalam rangka memperkuat daya tahan dan daya saing ekonomi negara kita”. Pidato ekonomi yang mengagumkan di tengah ribuan mayat corona yang sudah disemayamkan.

Bila korban corona sudah jatuh bergelimpangan seperti hari ini, kepada siapa tanggung jawab kesehatan warga harus diemban? Kepada siapa telunjuk ini harus diarahkan? Marc Lipsitch?…

Ciputat, 28 Maret 2020
(Bersambung…)

*Uraian ini ditulis Emha S. Asror dengan mengolah berbagai sumber. Tim Pencari Data: Ahmad Thoifuriah, Aji Pangestu, Rahmadhin, Kholilullah.

Redaksi

Add comment