Formaci

Benang Kusut dalam Kepala

Pada pertengahan tahun 2017, seorang anak laki-laki bernama Furqon, 10 tahun, asyik membuang wajahnya ke luar kaca mobil. Ia mengamati seluruh objek yang ditangkap matanya selama mobil berkendara. Beberapa saat kemudian, ia beringsut masuk ke dalam mobil dan menekuk wajah sekaligus bibirnya. Saat ditanya mengapa cemberut, ia bilang, ia telah melihat seorang Cina. Sejurus kemudian, ia nyatakan orang Cina harus dijauhi, tidak boleh ditemani.

Lima orang dalam mobil terdiam. Dalam diam, mereka bersepakat: ada yang tidak beres dalam kepala Furqon. Saat itu, Indonesia memang sedang darurat dominasi politik. Hampir seluruh media massa meramaikan dunia maya dengan hoax dan banyak pula di antara kita yang turut panas menyaksikan bagaimana carut-marutnya perpolitikan di Jakarta. Yang sayangnya, berdampak buruk terhadap kondisi nasional. Bukan hanya orang dewasa saja yang terkena dampaknya, anak-anak kecil pun turut limbung.

Lima orang di dalam mobil bertanya mengapa Furqon berkata demikian. Ia hanya menjawab bahwa televisi memberitakan kejelekan orang Cina. Ibu-bapaknya berkata orang Cina telah menista agama. Teman-temannya bilang orang Cina selalu jadi sumber masalah. Lima orang di dalam mobil paham, informasi yang didapatkan Furqon hanya ditelan mentah-mentah. Di usia sangat belia, Furqon tak bisa memilah mana yang harus dicerna dan mana yang harus dibuangnya. Alam bawah sadar Furqon bekerja dengan cepat. Setelah tahu bentuk “orang Cina” secara fisik, ia akhirnya mengklaim bahwa semua orang Cina tidak baik.

Apa yang disimpulkan dalam benak Furqon ialah cerminan dampak dominasi politik yang terjadi. Tanpa disadari, kita semua selalu hidup dalam dominasi. Tak bisa dipungkiri, dominasi yang keluar batas merupakan masalah besar. Namun, sulit untuk menghilangkannya. Hanya bila sampai pada kesadaran dominasi itu, perlawanan sebetulnya sudah dimulai. Misalnya saja kita terlibat dalam sebuah situasi partiarki yang tidak sehat. Contohnya, lelaki yang memaksakan kehendaknya atas perempuan. Atau, saat seorang suami tidak mendapatkan hak-haknya dari sang istri padahal kewajiban-kewajiban telah dijalaninya dengan baik. Paling parah, ada pihak yang merasa kuat secara sosial dan menghakimi pihak yang lainnya tanpa alasan yang jelas. Hanya karena ia punya jabatan dan bisa berlaku sewenang-wenang. Dominasi-dominasi kecil seperti itulah yang perlu diwaspadai.

Sayangnya, kita tak pernah benar-benar sadar bahwa dominasi telah merasuk ke dalam tubuh kita, menggerogoti akal sehat sehingga kita tak sadar telah didominasi sesuatu. Banyak macam dominasi yang terjadi. Dalam buku Dominasi Penuh Muslihat (2010), Haryatmoko membagi dominasi ke dalam enam bentuk yakni dominasi fisik, dominasi ekonomi, dominasi politik, dominasi sosial, dominasi budaya dan dominasi simbolik. Dominasi menimbulkan kekerasan. Kekerasan tidak melulu soal fisik akan tetapi juga mencakup kekerasan psikologis dan simbolis. Dalam kekerasan, ada kekejaman yang dilegalkan tanpa pembenaran, penghinaan yang disengaja dan penderitaan tersebut cenderung menimpa orang yang tak bersalah. Tanpa disadari, Furqon melakukan ketiganya. Bagaimanapun, kekerasan merupakan pembenaran ilahiah. Pembenaran itu hanya ada di kepala pelaku, tanpa perlu legalitas. Kita kerap melakukan kekerasan dengan latar belakang informasi yang didapatkan tanpa perlu bersikap ragu.

Ada benang kusut dalam kepala Furqon, juga kita. Sebuah cara berpikir yang tak sehat dan sistem penerimaan informasi yang lemah. Selain gandrung media sosial, kita terbiasa hanya membaca portal berita online yang menyajikan informasi instan. Kita seolah dibuat tak perlu repot-repot membaca media cetak seperti koran atau majalah. Kesadaran membaca, memiliki dan mengesahkan informasi (pengetahuan) dari buku pun, akhirnya, muskil ditemukan. Buta sejarah, pengetahuan politik yang tak mumpuni dan bacaan yang tak luas kerap membuat kita berpikir ngawur. Klaim-klaim yang diutarakan Furqon, lebih banyak bekerja dalam alam bawah sadar. Informasi yang mengendap dalam alam bawah sadar itulah yang kemudian membawa kita ke dalam pelbagai macam pembenaran: bentuk dominasi paling kejam.

Untuk mencegah sikap dominasi yang keluar dari batas, kita wajib berperan serta. Dalam dominasi, ada pihak yang mendominasi dan didominasi. Pelaku dan korban. Pihak yang kuat dan lemah. Dalam kasus Furqon, orang Cina yang dimaksudkannya merupakan korban dari situasi politik yang terjadi. Namun Furqon pun bukan sepenuhnya pelaku, ia juga korban. Korban dari lingkungannya yang tak bisa berpikir jernih. Alih-alih saling menghormati antar etnis, mereka malah bersikap memusuhi. Cara berpikir ini mengakar, menguat, dan disalahgunakan. Untuk melawannya, kita mesti punya kesadaran dari dalam diri dan menularkan kepada orang-orang di sekitar. Artinya, kesadaran berperan penting dalam pola pikir dan tindakan. Kesadaran per individu itulah yang kemudian mengendap, membentuk menjadi kebiasaan. Jika kebiasaan ini menguat dan memengaruhi orang-orang di sekitarnya, meluas dalam skala kecil, kemudian membesar, tentu tak akan ada lagi cara-cara berpikir yang seperti Furqon: hanya mengklaim, tanpa perlu bertanya dan coba menemukan kebenaran.

Pilkada telah di depan mata. Bahaya mengancam dari segala. Kita tentu tak bisa dengan mudahnya abai pada apa yang sudah dan akan terjadi. Apabila wacana-wacana hoax mustahil diberantas, seharusnya kita bisa mencegah pemikiran Furqon-Furqon selanjutnya. Lalu, menciptakan Furqon yang baru dengan cara berpikir jernih dan kesadaran akan dominasi yang tak sehat dan di luar batas. Kemudian berkomitmen membangun sistem penerimaan informasi yang kokoh sehingga tidak mudah diracuni berbagai macam kebencian. Mengurai benang-benang kusut dalam kepala masing-masing. Tapi toh kita, yang mengklaim diri sehat wal afiat ini, juga kerap tak bisa mencerna semua informasi dengan bijak.

Masihkah benang kusut itu bergelung di kepala kita?[]

*Uraian ini ditulis Ayu Alfiah Jonas dengan mengolah berbagai sumber.

Redaksi

Add comment