Formaci

Esai-esai Benjamin: Sebuah Pengantar

Walter Benedix Schoenflies Benjamin lahir pada tanggal 15 Juli 1892, di Berlin. Besar dan berasal dari keluarga menengah atas Yahudi. Hubungan Benjamin dengan keluarganya tak berjalan mulus sehingga membuat dia sering dilanda periode kesepian semasa hidupnya.

 
Layaknya para pemuda Jerman yang lain, Benjamin ketika mudanya penuh dengan rasa tidak puas akan hidupnya. Ini membuat Benjamin mencoba mencari jati dirinya dan ikut bergabung dalam gerakan sayap paling radikal di Jerman saat itu, yakni Jugendbewegung. Yang mana sebagian besar organisasi tersebut dihuni oleh pemuda dan mahasiswa Yahudi.
 
Di organisasi tersebut Benjamin bertemu dengan sahabat karibnya Gerhard Scholem. Mereka berdua sama-sama memiliki minat terhadap Zionisme (yakni pada aspek budaya dan intelektualnya, bukan pada proyek politik Zionisme). Pada tahun 1917, Benjamin menikahi Dora Kellner (putri dari tokoh intelektual Zionis, Leon Kellner).
 
Perlu diperhatikan bahwa latar belakang Benjamin yang berasal dari keturunan Yahudi dan interaksi dia dengan orang-orang Yahudi membuat corak pemikiran Yahudi melekat pada karya-karya Benjamin. Semisal dia sangat terpengaruh akan mistisisme Yahudi yang itu sangat diprotes oleh rekan-rekannya di Frankfurt School, khususnya Adorno.
 
Theses on the Philosophy of History
Kembali pada konteks Benjamin hidup yang banyak diwarnai oleh peristiwa berdarah (Perang Dunia I, Revolusi Oktober 1917, dan munculnya Nazi) dan juga pengaruh corak berpikir abad-19 yang berusaha mendekatkan ilmu sosial dengan fisika dan matematika, membuat Benjamin menuliskan kritikannya terhadap sejarah sebagai suatu yang progres (berurutan maju). Esai berjudul “Theses on the Philosophy of History” yang ditulis Benjamin merupakan usahanya dalam mengganggu gagasan lama terhadap kemajuan waktu yang linier dan satu arah yang ia sebut sebagai “homogenous empty idea of time” (ide yang hampa dan homogen tentang waktu) dan juga perlawanan dia terhadap universalisme ala Kantian.
 
Benjamin berusaha menentang kita akan kebiasaan lama yang mengatakan bahwa apa yang terjadi di masa depan adalah akumulasi dari apa yang terjadi di masa kini dan masa lalu. Penjelasan Benjamin dalam esainya adalah apa yang terjadi di masa depan sebenarnya tidaklah semulus dengan apa yang kita bayangkan. Selalu ada kerikil-kerikil yang menjadi penghalang dan juga korban yang harus ditumbalkan dalam setiap perjalanan sejarah. Contoh yang diambil Benjamin adalah lukisan Angelus Novus karya Paul Klee yang menggambarkan Malaikat yang wajahnya berpaling ke arah masa lalu dan menyadari begitu banyaknya puing-puing reruntuhan dalam suatu rantai peristiwa.
 
Apa yang diinginkan oleh Benjamin adalah sejarah itu dikupas sebagaimana adanya yang harus autentik dan digali sebenar-benarnya. Ia bermaksud mengkritik para pemenang yang menulis sejarah dengan begitu banyak reduksi, sehingga sejarah digambarkan sebagai rangkaian peristiwa yang lancar-lancar saja. Hal ini merupakan gambaran penting Benjamin dalam memberikan sumbangsihnya terhadap cara melihat masa lalu.
 

The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction

 

Esai ini menjadi populer di kalangan mahasiswa seni dan budaya, mengapa? Karena esai ini menyoroti reproduksi mekanik yang membuat karya seni bisa diproduksi secara massal (hal yang bisa disaksikan dalam perkembangan fotografi, film, dan rekaman suara sejak abad-20). Benjamin berpendapat produksi karya seni secara massal dapat menghilangkan naturedari karya seni itu sendiri, sehingga identitas autentiknya menghilang. Namun, menurutnya, hal ini bukanlah problem utama selagi seni itu masih memiliki kualitas, apakah dalam kontennya maupun dalam fungsi sosialnya.
 
Dalam masyarakat Borjuis abad-18 dan-19, seni menampilkan kecantikannya yang benar-benar autentik sebagai “nilai tradisional dan warisan budaya”. Sedangkan yang terjadi pada masyarakat abad-20, yakni seni dibawa ke produksi massal. Sehingga selain kehilangan akan posisi ritualnya dalam tradisi borjuis, seni juga mendapatkan nilai guna baru yakni ekonomi dan politik (seperti kita ketahui bila Frankfurt School menolak memuja ekonomi dan politik).
The Arcades Project

Ini adalah karya dari Benjamin yang belum terselesaikan, karena saat itu pasukan Nazi sudah meduduki Paris tempat di mana Benjamin tinggal. Saat itu Benjamin terpaksa lari ke perbatasan Spanyol untuk “kabur” ke Amerika Serikat. Namun, dia tidak mendapatkan visa untuk keluar dari Perancis dan membuat dia melakukan bunuh diri saat itu.

 
Proyek yang satu ini mungkin adalah karya terunik dari Walter Benjamin karena isi dari tulisan tersebut adalah berbagai kutipan-kutipan. Dalam The Arcades Project ini Benjamin berusaha menggambarkan kota Paris dari berbagai sisi. Baik itu kemajuan kota Paris, maupun juga sisi gelap dari kota Paris yang terdapat bisnis prostitusi, lorong-lorong pengap, perjudian, dan juga flaneur yang berserakan di sudut-sudut kota. Dalam karyanya yang terakhir ini Benjamin mengatakan bila dirinya tidak memiliki kehendak untuk mengatakan apa pun, tetapi hanya menunjukkan apa adanya. Oleh karena itu, seperti karya sebelumnya sekali lagi Benjamin tetap ingin menojolkan kekhasan atau keautentikan dari sesuatu.

Aldo Serena

penulis adalah mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tulisan ini dibuat untuk presentasi serial diskusi filsafat Mazhab Frankfurt dengan tokoh Walter Benjamin di Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci), pada tanggal 13 Oktober 2015, pkl. 19.30 wib.

Add comment