Formaci

Fenomenologi Transendental

Ahmad Fedullah*
 
Awal-awal abad ke-20 metode fenomenologi telah menjadi mazhab filsafat yang menggaung di Eropa kontinental, khususnya Jerman dan Prancis. Siapa peletaknya? akan penulis hadirkan dalam paperini.
 
Biografi
Disudut daerah Moravian kota Prossnitz tahun 1859, Husserl dilahirkan oleh orang tua penganut Yahudi (sejaman dengan sosiolog Jhon Dewey). Di kota yang sama dia memulai pendidikan dasarnya. Dan sekitar tahun 1876-1878 dia berkelana ke Universitas Leipzig untuk mempelajari fisika, astronomi dan juga matematika. Pelajaran ini terus ia kembangkan sampai ia “mondok” di Universitas Wilhelm Friederich, Berlin.
 
Tahun 1881, Husserl kuliah di Universitas Vienna dan tiga tahun setelah itu, ia berhasil meraih gelar doktoralnya dengan disertasi Contribution to the theory of the Calculus of Variations. Setelah  mendapat gelar doktoralnya, Husserl berkenalan dengan prof. Franz Brentano  (pemikir yang paling berpengaruh bagi Husserl, khususnya tentang metode fenomeloginya).
 
Meski hidup dalam kebengisan Nazi, Husserl berhasil menulis banyak karya-karya ilmiahnya. Buku pertamanya yang terbit adalah Philosophy of Arithmetic (1891). Beberapa karya besar yang lainnya adalah Logical Investigation(1900-1901), Ideas for a Pure Phenomenology (1913), Cartesian Meditation (1929), dll. Pada usia 79 tahun, 1938 Husserl mengedipkan mata untuk terakhir kalinya di Freiburg.  
 
Siapapun yang ingin mendalami pemikiran Husserl, sangat penting membongkar kefokusan minatnya yang dalam beberapa rujukan dibagi ke dalam empat fase. Petama, fase dimana Husserl memfokuskan diri pada kajian logika dan matematika. Kedua, fenomenologi yang memfokuskan pada teori pengetahuan. Ketiga, fenomenologi sebagai fondasi filsafat dan ilmu secara universal. Terakhir,fase dimana tema dunia-hidup (Levenswelt) menjadi tema dominan dalam fenomenologinya. Melaui minatnya inilah nantinya mewariskan berbagai tafsiran tentang fenomenologinya.
 
Heidegger, Sartre dan Merleau-Ponty adalah nama-nama besar filsuf yang memiliki keterpengaruhan dari Husserl. Bagaimana keterpengaruhan Husserl terhadap ketiga filsuf tersebut, tidak akan penulis paparkan disini, (James Fieser hal. 448).
 
Fenomenologi Sebagai Kritik
Sebelum Husserl hadir dan mendefinisikan fenomenologinya dalam kertas ini? Saya teringat dengan pertanyaan yang selalu diutarakan seorang teman setiap kali diskusi, mengapa kata itu (fenomenologi) muncul?  Dan untuk apa teori atau metode itu lahir?
 
Metode filsafat Husserl lahir sebagai respon terhadap semangat berpikir yang berkembang pada masanya. Ilmu positif, Matematika, termasuk Psikologi adalah beberapa bidang pengetahuan yang menjadi sasaran kritik Husserl. Dan anggapan-anggapan masyarakat mekanik (ilmu pasti-alam) adalah bidang yang paling dikritiknya.
 
Kerumunan pengetahuan seperti itulah yang membuat metode fenomenologi Husserl lahir. Husserl menganggap, bahwa dengan tunduk  terhadap ilmu-ilmu diatas, manusia secara tidak  langsung telah membunuh apa yang disebut dengan consciousnes yang inheren dalam dirinya. Dan realitas seperti itu, Husserl menyebutnya dengan krisis ilmu-ilmu di Eropa Barat, yang dituangkan dalam bukunya “The Crisis of European Sciences”(1936). Untuk mengembalikan hakekat manusia itu, Husserl menawarkan sebuah metode baru dalam filsafatnya, yakni fenomenologi.
 
Makna Fenomenologi
Secara sederhana fenomenologi dapat dimaknai sebagai metode atau pendekatan untuk mendeskripsikan gejala sebagaimana gejala itu menampakkan dirinya pada kesadaran kita. Ada dua macam gejala, gejala yang secara langsung dapat diamati oleh panca indra (gejala eksternal) dan gejala yang hanya dapat dialami, dirasakan, diimajinasikan dan dipikirkan oleh pengamat tanpa perlu ada referensi empirisnya (gejala internal).
 
Dalam merespon setiap gejala, Husserl mendorong kita untuk melepaskan semua beban (harus yang murni dan asli) seperti, nilai kebudayaan, kepercayaan bahkan pengetahuan yang telah melekat dalam diri kita. Biarkanlah gejala (murni) menghadirkan dirinya pada kesadaran kita. Dalam pernyataan mashurnya “kembali pada realitasnya sendiri” (zu den sachen selbst).
 
Tidak mudah memang untuk menemukan gejala yang “murni” ataupun apa yang disebut dengan pengatahuan rigorus, yaitu suatu ilmu pengetahuan yang tidak mengandung unsur keraguan (apodiktis). Karena itu, Husserl menawarkan istilah apa yang disebut sebagai Einklamerungatau (menyimpan dalam tanda kurung), istilah lainnya reduksi (penyaringan).
 
Einklamerung adalah aktivitas yang dilakukan oleh pengamat untuk mencari hal-hal yang paling esensial dari setiap gejala dan mengurung apa-apa yang dianggap tidak esensial. Ada tiga bentuk reduksi bagi Husserl (1) reduksi fenomenologi (2) reduksi eidetis dan (3) reduksi transcendental.
 
Reduksi fenomenologis bermakna sebagai pengurungan terhadap semua teori atau konsep yang melekat pada diri kita ketika bersentuhan dengan sebuah gejala. Reduksi eidetis digunakan sebagai penyimpanan terhadap gejala-gejala yang dianggap tidak esensial. sedangkan reduksi transendental adalah adalah gabungan dari keduanya, yakni menyimpan semua teori dan konsep yang melekat pada diri kita dan juga menyimpan gejala-gejala yang tidak esensial. Dan yang tersisa dari semuanya hanya kesadaran. Husserl sendiri memaknai kesadaran ini selain berguna sebagai alat penyelidik tetapi juga sebagai lapangan penyelidikan. Disinilah muncul teori intensionalitas(consciousness is always consciousness of something).
 
Intensionalitas adalah konsep bahwa kesadaran seseorang selalu terarahkan pada sesuatu. Bagi Husserl kesadaran bukanlah kesadaran pada dirinya (an sich), tetapi perpaduan aktivitas antara subjek yang menyadari dan objek yang disadari. Intensionalitas juga dapat dipahami sebagai proses penciptaan atau pemberian makna terhadap gejala-gejala yang menjadi objek kesadaran. Dengan demikian berarti bahwa esensi dari kesadaran adalah intensionalitas.
 
Artinya, yang ingin dikatakan Husserl mengenai intensionalitas adalah bahwa kehidupan manusia bukanlah dunia objektif melainkan dunia apa yang disebutnya dengan Lebenswelt (dimaknakan). Dari sini Husserl mengetengahkan bahwa prinsip intersubjektif adalah nilai kebenaran yang sesungguhnya. Yaitu, usaha pembongkaran makna noumena dibalik yang fenomena.
 
*penulis adalah mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tulisan ini dibuat sebagai bahan diskusi serial filsafat dengan tokoh Edmund Husserl di forum yang cukup berumur, Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci), Selasa 26 mei 2015,  pukul 19.30 wib.
  

Redaksi

Add comment