Formaci

Habermas: Peneguh Mazhab Frankfurt


Abdallah Sy*
Pendahuluan: Sebuah Refleksi
Dalam rentang waktu yang panjang, filsafat hadir dalam pergumulan manusia untuk menemukan kebenaran yang hakiki dan—dalam literatur Islam, Al-Hikmah—kebijaksanaan. Para filosof mencari kebenaran hakiki dalam ruang yang sunyi dan jalan yang berliku. Persentuhan mereka dengan alam yang kemudian menemukan temuan-temuan origin, seperti temuan akan kebenaran yang bermuara pada gerak (Heracleitos), tetap (Fermenindes), bertumpu pada keadilan (Socrates), bermuara pada idea (Plato) dan berasaskan pada realitas nyata (Aristoteles). Mereka hadir sebagai generasi awal dalam sejarah filsafat klasik (Al-Sabiqun al-Awwalun). Plato dan Aristoteles memberikan sumbangsih besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan yang dijangkarkan pada rasionalitas dan empirisme.
Pada abad pertengahan, filsafat mengalami pergeseran yang mendasar, muara filsafat pada saat itu dikangkangi oleh kebenaran yang disandarkan pada wahyu (Kitab-Suci). Otoritas gereja telah mengebiri esensi filsafat. Dalam arti yang lebih luas bahwa filsafat—yang dijangkarkan pada kreativitas berfikir dan berasaskan pada data empirik—berada dalam tenda besar agama. Masa ini dimotori oleh Thomas Aquinas dan St. Augustinus.
Pencerahan Eropa membawa corak baru bagi perkembangan filsafat, masa ini kerap disebut filsafat modern. Pencerahan ini mengembalikan filsafat pada khittahnya, berlandaskan pada kekuatan fikir dan kebenaran inderawi. Masa ini, filsafat dirumuskan lewat keraguan, cogito-ergo sum (Descartes), skeptisisme (David Hume), kritisisme (Immanuel Kant), dan roh absolut (Hegel). Pada paruh akhir abad 17, filsafat tidak hanya hadir dalam tataran idea yang melangit, tapi direduksi dalam ranah praksis yang membumi. Nilai-nilai filsafat direduksi dalam dunia kerja. Spirit ini dinahkodai oleh filosof asal Jerman, Karl Marx. Hampir seperempat dunia terperangah dengan kecanggihan idea Karl Marx (Baca: Franz Magnis-Suseno).
Pada perkembangannya, gagasan Marx berpengaruh hingga abad 20. Pemikir dan praktisi yang berpegang teguh pada aliran Karl Marx yang, pada gilirannya dinamakan dengan mazhab Marxisme diantaranya: Lenin, Trotsky, Antonio Gramsci, Mao Zedong, dan lainnya. Corak pemikiran Karl Marx identik dengan istilah “kiri”. Belakangan, pemikiran kiri ini diteruskan oleh para aktivis Jerman yang memiliki spirit emansipasi kemanusiaan. Mereka berkumpul dalam satu wadah, Frankfurt School, yang kemudian termasyhur dengan mazhab Frankfurt. Para pemikir ini adalah Horkheimer, Adorno dan Herbert Marcuse. Menurut mereka bahwa semangat positivisme yang identik dengan “the idea of progress”—adagium ini menjadi khittah bagi semangat modernisme—diharapkan mampu menjawab sengkarut persoalan yang membelit masyarakat modern, akan tetapi pada prakteknya, justru positivisme—yang dianggap bebas nilai (Value-free)—menjadi  kedok bagi status quo, dalam konteks saat itu adalah kekuatan Fasisme dan Stalinisme. Modernisme di alam pikir mazhab Frankfurt adalah pemikiran identitas (Adorno), rasio instrumental (Horkheimer) dan rasionalitas teknologis (Herbert Marcuse). Pandangan mereka bahwa positivisme merupakan kebobrokan yang berjubah pencerahan karena pada realitasnya sebagai mitos atau tahayul an sich.
Dalam Bayang Postmo
Lebih dahulu, mazhab yang lebih awal kritis terhadap modernisme adalah postmodernisme. Postmodernisme kali pertama digaungkan oleh Lyotard. Aliran ini acap kali dikaitkan dengan filosof asal Jerman abad 19, Nietzsche. Nietzsche mencoba membongkar topeng-topeng modernisme yang meninabobokan manusia. Sumbangsih Nietzsche dalam filsafat adalah moralitas, karena bagi dia, manusia modern kehilangan kreativitas dan cenderung membeo pada nilai-nilai yang sudah ada dan kerap kali di tuhankan. Maka adagium yang termasyhur dalam bait-bait Zarathusra-nya adalah “Tuhan telah mati”.
Pokok pemikiran ala postmodernisme adalah tidak adanya pemaknaan tunggal terhadap isme-isme atau bentuk aliran apapun, maka yang terjadi kemudian adalah sebuah banalitas (kebenaran tampak abu-abu dan tidak ada dominasi kebenaran). Filsafat kontemporer setelah Nietzsche bermuara pada kritisisme yang dalam esensinya mempertanyakan kembali teori-teori yang sudah mapan dan dianggap tidak mampu menjawab problem kemanusiaan di era modern. Sisi lain dari alam pikir postmodernisme adalah memusatkan diri pada tindakan manusia yang konkrit. Manusia sebagai subjek dan berkompromi dengan realitas yang nyata dengan kesadaran sebagai jembatannya. Filsafat tidak berada dalam kotak idea an sich atau terkurung dalam nilai empirik an sich. Idea dan realitas menyatu dalam titik kesadaran manusia. Maka, filsafat dijangkarkan pada kesadaran: transendental ego (Edmund Husserl), Dasein(Martin Heidegger), dan Being for-itselfatau manusia bebas (Jean Paul Sartre). Dan postmodenisme pada puncaknya dimotori oleh Derrida dengan Dekonstruksinya. Derrida bukan hanya sebagai pemegang teguh postmodernisme, ia juga lahir sebagai peletak dasar post-strukturalisme. Dengan Dekonstruksinya ia mengkritik kaum struktrularis seperti F. Saussure yang menitik beratkan pada simbol atau tanda. Derrida ingin melampoi dua mazhab filsafat: Modernisme dan strukturalisme, dengan bahasa sebagai kuncinya dan pada akhirnya kemudian kebenaran ditangannya tidak tunggal dan keragaman akan kebenaran itu dirayakan.
Berangkat dari konteks di atas—setelah meletusnya dua revolusi besar: revolusi industri dan revolusi Prancis, yang keduanya berdampak bagi perkembangan ekonomi dan politik—pertarungan ide berkembang dengan subur dan sekaligus menjadi ideologi bagi gerakan kemanusiaan. Tak ayal, pada pertengahan abad 20, dunia terpecah dalam dua kutub ekstrim: kapitalisme dan komunisme—pada masa awal-awal kemerdekaan, Indonesia menjadi lahan subur bagi pertarungan dunia kutub ekstrim tersebut—dan pada saat itu, ilmu pengetahuan dan teknologi tumbuh secara masif, sehingga menghantarkan manusia dalam kemapanan dalam pelbagai bidang: sosial, ekonomi dan politik. Dalam ruang dan waktu yang begitu mapan itu, lahirlah seorang pemikir kristis asal Jerman, Jurgen Habermas. Dalam ikhtisar singkat ini, penulis menfokuskan diri pada gagasan Jurgen Habermas: Dalam konteks seperti apa  gagasan Habermas itu lahir, apa sumbangsih Habermas terhadap ilmu pengetahuan dan solusi apa yang ditawarkan Habermas dalam mengatasi sengkarut persoalan yang dirasakan masyarakat modern?
Habermas: Sebuah Perkenalan
Laiknya  para pemikir, Habermas melahirkan gagasannya bukan dalam ruang yang kosong. Ia hidup dalam perhelatan masyarakat modern yang mapan. Dalam pertarungan ide, modernisme sebagai tesis dan postmodernisme sebagai anti tesisnya terus diperbincangkan sebagai landasan  dalam life-style masyarakat pada saat itu. Pada tahun 1929, sebagai anak zaman abad 20, Habermas lahir di  Dusseldorf, Jerman. Ia memulai perjalanan intelektualnya di Universitas Gottingen dan Bonn. Ia mulai tertarik dengan filsafat yang akhirnya bertemu dengan komunitas Frankfurt School di bawah asuhan Theodor Adorno. Ia banyak menggeluti dan terpukau dengan teori-teori Marxis, ia sangat terpengaruh oleh para pemikir mazhab Frankfurt hingga kemudian ia tidak puas dan akhirnya ia mengkritisi gagasan yang dibangun oleh mereka.
Pemikir mazhab Frankfurt berangkat dari realitas yang terjadi pada tahun 1960an, di mana masyarakat pada saat itu sudah mapan dalam pelbagai bidang. Arus pemikiran yang berkembang pada saat itu adalah: post-strukturalis, fenomenologi, hermeneutik, neo-Marxisme (teori kritis) dan neo-positivisme. Ide-ide ini berkembang di tengah masyarakat modern dan terlembagakan sebagai sebuah disiplin ilmu. Misi suci dari aliran-aliran tersebut adalah diharapkan mampu menjawab sengkarut persolan yang membelit masyarakat yang hidup di tahun 1960an. Pemikiran Habermas berangkat dari kritik yang digaungkan oleh para pemikir Frankfurt. Pemikir Fankfurt, Horkheimer, misalnya, menitik beratkan pada akademis-filosofis yang diharapkan mampu memberikan sumbangsih konkrit terhadap masyarakat. Horkheimer mencoba mensintesakan tradisi pikir Marxisme dengan Hegel, Immanuael Kant, dan Sigmund Freud. Kritik para pemikir Frankfurt berkisar pada: perkembangan ego, media dan kebudayaan massa, psikologi sosial protes, teori seni dan kritik atas positivisme, dan integrasi sosial masyarakat post-liberal. Lima point yang menjadi starting-point untuk mengembangkan suatu perubahan bagi masyarakat. Masyarakat Eropa pada saat itu—menurut pemikir Frankfurt—jatuh pada claim of truth ala kaum modernisme yang cenderung menuhankan positivisme sebagai kebenaran ilmiah. Alih-alih positivisme yang diharapkan tampil sebagai alat yang bebas nilai(value-free), justruhadir sebagai kedok semata untuk melegitimasi status quo yang dikendalikan oleh kaum Fasisme dan Stalinisme. Maka, semangat pencerahan ala modernisme yang bertopeng positivisme tersebut—sejatinya—digerogoti oleh virus, meminjam istilah yang digaungkan para kaum konservatif Islam, TBC (Takhayul, Bid’ah dan Churafat). Istilah yang disematkan untuk positivisme bagi kalangan Fraknfurt seperti apa yang  telah penulis paparkan di muka. Dan pada akhirnya gerakan ini masyhur dengan gerakan kiri baru (The New Left Movement) yang pada visinya menjunjung tinggi nilai-nilai kesetaraan (emansipatoris). Artinya, tidak ada dominasi kebenaran bagi salah salah satu kelompok atau pemikiran apapun.
Solusi yang ditawarkan pemikir Frankfurt untuk mengatasi problem masyarakat modern adalah seperti yang ditawarkan Adorno dan Horkheimer dalam karyanya, Dialektik der Aufklarung, yang bagi keduanya, potret masyarakat modern dininabobokan oleh mitos-mitos atau tahayul manusia modern dengan memasuki ke dalam sendi-sendi pendidikan, ekonomi dan industri. Keduanya menganggap bahwa mitos-mitos tersebut adalah bentuk dominasi baru bagi masyarakat terutama bagi masyarakat tradisional. Rasio modern atau weltanschaung masyarakat modern yang demikianlah yang dipukul oleh keduanya.
Senada dengan Adorno dan Horkheimer, Marcuse dalam karyanya, One-Dimensional Man,ia  menganggap bahwa masyarakat modern adalah sebagai manusia tunggal. Artinya, manusia yang hidup di abad modern ini kehilangan dimensi kedua, yakni sikap kritis dan perlawanan terhadap sistem yang sebenarnya menjadi dominasi baru yang menjajah.
Kritik para pemikir Frankfurt dianggap gagal karena mengalami kemacetan dalam memberikan solusi yang konkrit dan kritik mereka terhadap positivisme terlampau universal. Habermas tampil sebagai anak kandung sah dari mazhab Frankfurt, pemikir yang tidak puas dengan cara berpikir para pendahulunya. Karyanya yang termasyhur, The Philosophical Discourse of Modernity, hadir sebagai bentuk kritik yang mendasar untuk para pendahulunya dan alam modernitas. Pertama-tama ia memukul argumentasi Marxis yang mereduksi bahwa kerja merupakan solusi untuk kesetaraan (emansipatoris) bagi manusia, Habermas menilai bahwa kerja adalah tindakan praksis dan rasional yang pada akhirnya terpeleset dalam jurang dominasi yang di dalamnya: kekuasaan, penaklukan, dan subjektivitas. Hal ini bagi Habermas, alih-alih kerja sebagai alternatif melainkan sebagai topeng bagi kapitalis atau sejenisnya.
Atas dasar itu, solusi yang ditawarkan Habermas adalah konsep “Masyarakat Komunikatif”. Istilah “komunikatif” ia memaparkan lebih jauh lewat esainya, The Theory of Comunicative Action, Komunikatif yang berarti argumentasi. Pada praksisnya, argumentasi bisa dilakukan hanya melalui bahasa (language). Konsep ini menjembatani jurang yang menganga dalam tradisi fikir mazhab Frankfurt.  Bahasa—bagi Habermas—sebagai sarana argumentasi yang cukup efektif di masyarakat. Bahasa didefinisikan sebagai tindakan praksis atau sebagai intraksi intersubjektif. Kata  kunci untuk memahami gagasan Habermas ada pada kata “praksis”. Bagi Habermas, Praksis tidak bisa direduksi hanya pada kerja melainkan lebih jauh ada komunikasi yang dilakukan oleh masyarakat yang memungkinkan dapat saling memahami satu sama lainnya. Praksis yang demikianlah yang mendorong masyarakat sebagai modal perubahan sosial. Praksis yang didasarkan pada kesadaran rasional karena bukan hanya menyangkut tidakan an sich melainkan pada taraf bahasa.  Ia merumuskan suatu visi bahwa masyarakat komunikatif merupakan konsensus yang universal dan bebas dari dominasi dan merupakan kehendak fundamental di setiap hubungan sosial. (Baca: F. Budi Hardiman).
Lebih jauh, Ia mendambakan masyarakat yang cerdas (reflektif) yang didasarkan pada ilmu-ilmu kritis yang di dalamnya terdapat nilai emansipatoris hingga kemudian akan menciptakan masyarakat dewasa dan otonom. Untuk mencapai misi suci itu, Habermas meyakini ada klaim-klaim kebenaran (Validity Claims) yang memungkinkan masyarakat berkomunikasi dengan saling memahami. Klaim-klaim yang ia rumuskan adalah: ketika ada pelaksanaan norma yang disepakati bersama maka akan ada ketepatan (rightness), dan jika ada kesesuaian di antara masyakat maka akan ada kejujuran (Sincerety). Jika klaim-klaim ini dijalankan dengan baik maka terciptalah apa yang disebut dengan kompetensi komunikatif yang merupakan claim of truth.
Pada praksisnya, masyarakat komunikatif tidak bisa digapai laiknya revolusi ala Marx, akan tetapi dicapai lewat argumentasi. Argumentasi ini—bagi Habermas—sebagai tangga untuk mencapai kompetensi komunikatif. Argumentasi teoritis adalah sebagai tangga untuk menggapai sebuah kalim kebenaran, argumentasi praksis digunakan sebagai alat untuk meraih klaim ketepatan dan argumenntasi eksplikatif diharapkan untuk mencapai kalim komprehensibilitas(comprehensibility). Lebih juah lagi, Habermas mengkategorikan kritik pada: kritis estetis dan kritik terapeutis. Yang pertama memungkinkan bisa melihat norma atau aturan sosial yang dianggap objektif. Artinya, kritik ini mempersoalkan kesesuaian dengan penghayatan aspek batiniah kita. Sedangkan yang kedua mencoba membongkar penipuan-penipuan antar masyarakat yang berkomunikasi. Jika argumementasi dan kritik tersebut dijalankan maka akan tercapai sebuah diskusi yang rasional.
Tentunya, Habermas dengan konsepnya yang begitu melangit tidak luput dari metodologi apa yang ia gunakan. Ia berangkat dari fenomenologi Husserl sebagai jembatan untuk menemukan titik temu untuk menutupi lubang yang diberikan para pendahulunya. Kita bertamasya sedikit ke dalam pemikiran E. Husserl. Husserl meyakini bahwa untuk mencapai kebenaran atau—dalam epistemologi—ilmu pengetahuan harus ada objektivisme, dimana dengan teori “kesadaran”-nya, ia ingin menjembatani rasio dengan realitas nyata dan kemudian mencipta makna umum (universal) tanpa ada unsur kepentingan (interest) dengan cara penundaan terhadap makna yang bias akan kepentingan atau dengan istilah “mengurung”. Husserl juga percaya bahwa kesadaran manusia ditelan oleh tafsiran-tafsiran objektivisme. Bagi Habermas, ini rentan akan kepentingan-kepentingan dalam individu. Maka kemudian untuk mengantisipasi hal itu, Husserl juga menawarkan apa yang disebut dengan teori sejati yang diharapkan dapat membersihkan objekstivisme atau tafsifran-tafsiran tersebut. Berangkat dari Hussserl, Habermas secara umum, mengafirmasi gagasan Husserl. Akan tetapi, Habermas keberatan dengan teori sejati karena menurut Habermas teori sejati bukan tujuan akhir dari fenomenolgi itu sendiri. Teori sejati, bagi Husserl, ingin memadukan teori dengan kehidupan yang riil dan ketika ini sebagai final destination, Habermas menolaknya. Hal lain yang sejalan dengan Husserl adalah kritiknya terhadap positivisme, tapi bagi Habermas, Husserl  tidak melihat jauh hubungan ontologi (dalam hal pemahaman teori murni) dengan positivisme.
Lebih dalam lagi, teori kritis bagi Habermas berangkat untuk memurnikan ilmu pengetahuan agar bebas nilai (value-free). Ia melihat dasar teori itu dengan segi historisitas, kata teori—bagi Habermas—itu sejatinya adalah realitas atau kontemplasi. Dengan berkontemplasi, manusia (lebih tepatnya seorang filosof) menerjemahkan realitas ke taraf kehidupan dengan cara meniru (Mimesis)atau dalam tradisi Arab disebut dengan muhakat. Maka kemudian teori dimaknai sebagai cara hidup (a way of life). Dengan cara tersebut, filosof mampu memisahkan apa yang tetap dan mana yang berubah, dan kemudian ini dinamakan dengan ontologi. Ontologi dalam pengertian ini adalah sebuah penjelasan objektif tentang seluruh realitas. Inilah yang disebut dengan teori murni atau sejati (ala Husserl). Untuk mencapai objektivitas tersebut demi tercapai teori murni, manusia harus menyingkirkan nafsu ankara murka, hasrat rendah dan keinginan-keinginan murahan. Pada praksisnya, bagi Habermas, kepentingan-kepentingan yang disingkirkan itu justru menjelma sebagai kepentingan itu sendiri dalam bentuk lain. Pandangan ini tampak jelas ketika Husserl berpendapat bahwa adanya krisis disebabkan oleh ilmu pengetahuan yang tidak disandarkan pada konsep klasik tersebut. Bagi Habermas, justru kemunduran itu disebabkan oleh ilmu pengetahuan yang merujuk pada pandangan klasik itu. Karena dengan mengklaim diri dengan objektif sesungguhnya terselubung kepentingan-kepentingan yang justru tidak disadari oleh para filosof.
Selanjutnya, ia membagi ilmu pengetahuan ke dalam tiga bagian: Ilmu empiris analitis (ilmu-ilmu alam), ilmu historis-hermeneutis (ilmu-ilmu sosial-kemanusiaan), dan ilmu-ilmu kritis. Pertama, ilmu pengetahuan bertumpu pada deduktif, misalnya, bila air dimasak dengan 100 derajat maka akan mendidih. Kedua, ilmu pengetahuan yang disandarkan pada penafsiran (verstehen), ini yang berkembang dalam ilmu hermeneutik mencoba menafsirkan realitas dengan interpretasi. terakhir, pengetahuan yang bertumpu pada hasil penelitian-penelitian seperti yang dilakukan oleh para pemikir mazhab Frankfurt.
Tentu saja, ringkasan sederhana ini tidak mungkin menuangkan gagasan besar Habermas secara komprehensif karena berbagai keterbatasan. Suatu kepuasan akan dicapai saat kita bercumbu mesra dengan karya-karya aslinya.
*penulis adalah mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Makalah ini dibuat sebagai bahan diskusi serial filsafat dengan tokoh Jurgen Habermas dan dipersentasikan pada Tadarus Ramadan di Aula Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci.Kamis, 18 Juni 2015 M/1 Ramadan 1436 H.
     
    
          

Redaksi

Add comment