Formaci

Manchuria

Formaci – Jauh sebelum coronavirus desease 2019 alias Covid-19 menjangkiti, jauh sebelum penyakit ebola dan SARS sayup-sayup tampak tak terdengar lagi, kira-kira pada awal-awal abad ke-20 atau tepatnya pada bulan Januari tahun 1911 sudah ada kurang lebih 2.571 orang dinyatakan mati akibat penyakit ‘misterius’ – anggapan penduduk lokal kala itu – di Shenyang, salah satu kota terbesar di Provinsi Manchuria di Cina.

Manchuria merupakan provinsi kuno di belahan timur laut milik Cina. Wilayah ini kaya sumber daya mineral, hingga sebagian daerahnya disengketa Jepang dan Uni Soviet ketika itu. Bahkan, pada tahun 1930-an, saat sebagian teritorial yang lebih dikenal penduduk lokal dengan nama Manzhou ini direbut Jepang untuk kedua kalinya, provinsi ini kemudian dijadikan salah satu pusat ekonomi dan industri: pembangkit tenaga listrik diciptakan; gedung-gedung bank didirikan; tersedia jalur kereta api hasil rampasan perang dengan Uni Soviet.

Pemandangan elok memanjakan, sumber daya alam seakan tak pernah dangkal meski dikuras habis-habisan saat itu, bukan berarti roda kehidupan masyarakat setempat berjalan lancar. Kerja mereka serabutan. Kadang menjadi buruh ladang, di waktu dan musim lainnya harus berjibaku mempertaruhkan nyawa dengan pekerjaan kasar yang berbeda. “Manchurian Railway Kingdom” atau “Singgasana Rel Kereta Manchuria,” tulis buku dokumentasi sejarah Manchurian Railway bertahun 2009, adalah potret gempita aktivitas ekonomi dan perdagangan di sepanjang 8,851,392 km jalur kereta yang dibuat antara tahun 1877 sampai 1911 oleh kolonialis Inggris dan Jepang di provinsi ini. Lagi-lagi, mereka hanya saksi tanpa bisa mengecap lezatnya bising kemajuan, saling sikut kesempatan kerja dengan urban dan bahkan kerapkali terpinggirkan.

Distrik-distrik dan kota-kota di Manchuria memang pesona bagi urban. Di tempat ini, warga pendatang pulang-pergi mendistribusikan dan menjajakan barang dagangan. Di antara mata pencaharian mereka jual-beli bulu, kulit, daging serta lemak marmut tarbagan. “Kabarnya, daging marmut siberia ini enak dimakan, sementara ketika itu lemaknya dijadikan semir guna perawatan barang-barang dari kulit hewan,” tulis Reginald Farrar, seorang dokter yang pernah bertugas di Cina dan instruktur rehabilitasi medis pada Albert Einstein School of Medicine di Yeshiva University dalam catatan kedokterannya tentang Plague in Manchuria yang diterbitkan tahun 1912.

Nahas. Pekerjaan yang menjadi pokok penghidupan itulah kemudian yang menyeret tubuh orang-orang di sana berpenyakit. Yang terbunuh tak sedikit. Selama satu tahun, dari 1910 hingga 1911, total sekitar 600.000 jiwa tergeletak mati di tempat ini dan sejumlah negara yang bersebelahan. Wu Lien-teh, dokter imigran berumah di Penang, Malaysia, dan yang sesudahnya dinobatkan jadi juru selamat wabah besar itu, dalam autobiografinya Plague Fighter: The Autobiography of a Modern Chinese Physician yang terbit enam tahun silam, punya narasi memikat tentang tragedi ini: sejauh mata menatap, sepanjang jalan terselimuti bangkai manusia. Tak ada yang berani menyentuh, takut penyakit pemicu ajal mereka berpindah. Reginald Farrar menggambarkan pula bencana wabah ini dengan tekanan kalimat menegangkan: “Di kota-kota yang dilanda, perekonomian dan kontak sosial jadi terhenti. Orang-orang, di mana anggota keluarganya sedang sakit, mentah-mentah ditolak masuk ke toko-toko atau ke rumah teman-temannya dan bahkan kerabat mereka sendiri… Penjaga perbatasan wilayah, polisi lalu lintas, petugas keamanan kereta api, semuanya mengenakan masker. Seluruh warga dilarang keluar-masuk kota tanpa bermasker”.

Peristiwa menyedihkan itu bermula di tahun 1910, ketika sejenis hewan pengerat, yang tak jamak dijumpai kecuali di Mongolia, bagian Barat Laut Manchuria, Transbaikal dan Siberia, itu tidur panjang dalam lubang-lubang persembunyiannya saat musim dingin tiba seperti banyak binatang lainnya. Masyarakat Kazaki, Suku Buryat serta Mongol punya kebiasaan menerkam mereka di waktu-waktu hibernasi ini. Celaka. Takdir derita rupanya tengah membela orang-orang urban Manchuria yang lugu ini: bukan yang segar digondol, tak sadar marmut sakit yang mereka dapat. Selang beberapa jam, selesai menguliti bulu hewan konsumsi dan komoditas ini, salah seorang dari mereka meniup napas untuk terakhir kalinya. Dengan bingung seraya terbata-bata banyak saksi saat itu menuturkan, “Sebelum dijemput maut si korban demam parah, tak lama dari itu mual dan muntah, kemudian batuk darah, bernapas pun susah”.

“Barangkali tidak akan pernah lahir cerita penuh tangis tentang peristiwa epidemi pes pneumonia yang bersejarah itu bilamana penduduk pribumi yang jadi pemburu,” demikian rekan sepenelitian Reginald Farrar di Cina, dr Clemow berkisah simpati. Seorang warga asli, katanya lagi, niscaya mengerti mana marmut layak, mana yang keadaannya tak wajar: yang normal mendengking kencang, sementara marmut yang punya kelainan gagu seolah ada yang membebani bagian rahangnya dan langkahnya yang cepat jadi melambat.

Dari satu kasus kematian pertama di Harbin itu, penyakit merambat dari satu sudut kota ke ujung kota lainnya di Manchuria. Di dinginnya November 1910, atau sejak datangnya sampar paru itu sebulan sebelumnya, Harbin sendiri sudah menyumbang 1.500 nyawa, termasuk 31 di antaranya tenaga medis. 407 km dari Harbin, di Kota Tsitsihar dilaporkan sebanyak 1.728 jiwa meninggal selama setahun epidemi. Di Pinchow 1.184 ditemukan sudah jadi mayat. 6.067 orang dinyatakan tewas di Hulan-fu. Hanya dalam hitungan satu bulan pada Januari 1911 di sembilan kota berbeda di Manchuria kira-kira ada 15.612 orang terinfeksi dan mati. Jika dikalkulasi, angka keseluruhan yang gugur di provinsi ini – sebagaimana catatan detail milik seorang profesor dan penulis Israel and China: from the Tang Dynasty to Silicon Wadi Mark O’Neill yang ia tulis 24 Februari lalu untuk The Article – ditaksir bahkan melebihi 63.000 orang.

Ribuan kabar duka orang-orang yang berkalang tanah ini, pekik rintih keluarga yang ditinggalkan, dalam amatan O’Neill, hanya “menyisakan debar jantung yang bertambah cepat karena memunculkan rasa panik begitu dalam bagi penduduk sekitar masa itu”. Akhirnya, terbersit bermacam dugaan yang menyimpang dan cara penanggulangan tanpa aturan medis pun diselenggarakan. 2006 lalu, dalam The Epidemic of Pneumonic Plague in Manchuria 1910-1911, pakar sejarah kedokteran Mark Gamsa meriwayatkan soal ini: dengan penuh kebimbangan mesti entah melakukan apa mereka membakar rumah-rumah yang dituduh terinfeksi, tubuh yang mati karena tertular dibuang sembarang ke galian, mayat-mayat berpenyakit dibiarkan membeku tertutup salju, yang cemas terjalar tewas kelaparan dalam pelariannya demi menyelamatkan diri seraya jenazahnya terbengkalai begitu saja di pinggir-pinggir sepanjang jalur rel kereta, di antara teriakan pengungsi yang meminta uluran tangan warga lainnya sengaja menutup jalan desa lantaran waswas terwabah.

Tapi bukan hanya penduduk sipil. Sewaktu Dinasti Qing, Kerajaan Cina terakhir yang berkuasa saat itu, bersama imperialisnya Kekaisaran Rusia dengan tergesa mengirim arahan pada tenaga medis yang bertugas, “Bunuh semua pasien dan ambil organ tubuh mereka untuk dibuat bahan obat-obatan,” agaknya ini sebuah aturan yang diterbitkan sebab terbawa perasaan sama paniknya ditambah putus asa. Tak hanya itu. Belakangan diketahui mereka menolak pula pengaduan berbagai kalangan tentang keberadaan penyakit di wilayahnya. Penolakan ini, kata Mark Gamsa, “Lebih karena hasrat tak mau jadi barang gunjingan negatif di mata khalayak internasional, yang dampaknya akan menurunkan investasi dan perdagangan”. Maka boleh jadi semua inilah yang mendorong sang ‘The Great Qing’ itu berani bersumpah bahwa besaran angka kematian cuma merenggut 43.000 nyawa, tidak sampai 63.000 orang seperti yang dicatat banyak peneliti saat itu.

Kemudian di tengah-tengah gelombang besar protes warga menuntut paksa meminta perhatian, sang Qing Agung malah menjawab mengalihkan: “Ada iblis yang dengan sengaja sedang berupaya membuat kita jadi pesakitan”. Tak heran, usai terhanyut suasana mendengar pidato kenegaraan yang barangkali lebih pantas diutarakan seorang penceramah agama, tak sedikit yang berbondong-bondong pergi menuju kuil-kuil dan gereja berharap ada sisa-sisa mukjizat bisa ditemukan di sana. Dan ajaibnya orang-orang ini benar-benar terlihat ‘sembuh’. “Sembuh untuk selama-lamanya serta tidak akan pernah lagi merasakan sakit di semesta yang fana ini alias mati terkapar,” cetus Mark Gamsa dalam jurnalnya yang ia publikasikan di Oxford University Press itu. Tentang ini, Mark Gamsa lalu menambahkan uraiannya dengan rinci: “Takut akan wabah, dibanding ke rumah sakit, mereka menjadikan Gereja Katolik Prancis di Fujiadian sebagai tempat pilihan terakhir. Di basilika ini mereka sampai-sampai rela murtad berpindah agama, dan selanjutnya betul-betul menggantungkan garis hidup kematiannya hanya pada Pastor J. F. Bourles seorang. Di tempat keramat ini, mereka tidak percaya sedikitpun penyembuhan medis dan bersikukuh memilih doa untuk mengusir penyakit yang diyakini datang dari makhluk tak dapat dirasa indera itu. Di sini pula, dengan iringan doa itu sang imam beserta jemaatnya kembali ke pangkuan Yang Maha Menghukum”.

Sama persis apa yang diucapkan sang Qing Agung. “Epidemi adalah hantu,” kata Presiden Cina Xi Jinping. “Kita tidak bisa terus-terusan membiarkan ia bersembunyi,” sambung Xi di depan Tedros Adhanom Ghebreyesus, Dirjen Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, pada 28 Januari 2020 di Balaiurung Istimewa Rakyat di Gelanggang Tiananmen itu sesudah dikritik habis-habisan sejumlah pemimpin negara lantaran tadinya belum juga punya niatan mengumumkan status virus corona sebagai gejala kejadian luar biasa yang harus diwaspadai atau pandemi. Khotbah Xi itu, menurut jurnalis sains dan pemilik buku Pale Rider: The Spanish Flu of 1918 and How it Changed the World Laura Spinney, sangat membingungkan banyak pengamat dan ahli pandemi dari Barat. “Apa yang hendak diinginkan dan disembunyikan Xi dalam pidato semacam itu, sementara korban corona di negaranya telah mencapai puluhan ribu?”.

Pidato Xi memang membingungkan, tapi lebih memusingkan lagi sambutan Wakil Presiden Indonesia Ma’ruf Amin di Kongres Umat Islam Indonesia ke-VII di 26 Februari lalu. Baginya antisipasi penanganan corona bisa dengan doa. “Begitu juga saya, baca doa qunut agar terhindar dari segala jenis bala, bahaya, wabah dan penyakit. Makanya, corona minggir di Indonesia,” ujar Ma’ruf.

Tapi apakah pemerintah pusat lewat titah Ma’ruf itu lupa bahwa bukankah doa harus diberi teman dekat usaha ekstra, bukan upaya yang biasa-biasa saja, sebagaimana anjuran Annisa di poin ke 102 dalam Alquran: “Waspada sembari bersenjatalah kalian semua!”. Demikian pula makna doa yang diajarkan Alhikam milik Ibnu Athaillah: “Stop! Jangan pahami doa untuk mengubah kehendak Tuhan bila kalian sendiri abai dengan usaha optimal”. Tidakkah mereka juga ingat peringatan penting pemberian Ibnu Hajar Alasqalani di buku karangannya Badzlu Almaun fi Fadhli Attha’un soal agar tha’un alias pandemi bisa ditangkal, yang mana ia lebih mendahulukan ikhtiar dengan langkah nyata dan baru kemudian berdoa. Karenanya jangan heran tanpa persiapan pencegahan yang matang, setelah ceramah Ma’ruf itu, beberapa hari berikutnya Tuhan sebagai Sang Pengadil dalam berjalannya kehidupan manusia mengganjarnya dengan ‘kartu’ corona.

Perihal hubungan antara wabah penyakit, kehidupan, serta doa kiranya kata-kata seorang ekspert kedokteran William Farr di tahun 1847 bisa dijadikan materi renungan:

Tidakkah dengan pengetahuan/Tidakkah dengannya kita tahu semesta raya kehidupan/Bencana, kemasyarakatan, lingkungan/sampai mencekamnya rasa panik sanggup diperasingkan…

 

Ciputat, 12 April 2020

*Uraian ini ditulis Emha S. Asror dengan mengolah berbagai sumber. Tim Grafik: Ahmad Thoifuriah, Aji Pangestu.

Redaksi

Add comment