Formaci

Menyingkap Selubung Modernitas


Cendhy Vicky Vigana*
Terdapat gejala-gejala yang diamati sebagai kegiatan yang dilihat lumrah oleh Heidegger. Misalnya, mengapa para buruh harus bekerja dari pagi-sore hari? Mengapa mahasiswa diwajibkan untuk berfikir kritis, aktif, dan dinamis? Gejala ini dibahas secara komprehensif lewat pemikirannya tersebut.
Martin Heidegger lahir di kota Messkirch 26 September 1889 dari pasangan Friedrich dan Johanna Heidegger. Lahir dari keluarga yang saleh membuat Heidegger berminat menjadi imam dan masuk seminari. Pada 1909 ia memutuskan untuk masuk novisiat Serikat Yesus di Tisis.
Dua minggu berada di tempat tersebut, Heidegger memutuskan keluar dan melanjutkan studinya di bidang filsafat dan teologi di kota Freiburg. Heidegger pun pernah terlibat konflik dengan gereja Katolik yang membuat ia didropout dan memutuskan hubungan dengan gereja tersebut. Meski demikian, Heidegger tetap mendapatkan bantuan dari geraja Katolik untuk studinya sampai selesai.
Ada kisah yang menarik lainnya bahwa Heidegger pernah bersedia menjadi anggota partai Nazi, dan secara pribadi menyatakan dukunganya kepada Hitler pada 1913. Bahkan ketika pidato pengukuhan menjadi Rektor Universitas Freiburg menggatikan E. Husserl, Heidegger bertindak sebagai propagandis Nazi. Namun, sejak 1936 ketika mengisi kuliah mengenai Nietzsche ia banyak melontarkan kritik pedas pada rezim totaliter tersebut.
Selain itu, Heidegger juga mempunyai kisah asmara yang tidak kalah menarik. Dia juga pernah menjalin kisah  asmara dengan gadis belia Yahudi berumur 18 tahun yang brilian—Hannah Arendt—saat berusia 35 tahun. Hingga akhirnya, di suatu pagi, sebelum melanjutkan tidurnnya, Heidegger menghembuskan nafas terakhir pada 26 Mei 1976 dan dikuburkan di kota kelahirannya, Messkirch.
Berhati-hatilah dalam membaca pemikirannya. Jean Paul Sartre saja, dianggap Heidegger, salah menafsirkan pemikirannnya. Bertindaklah seperti pemula, bukan ilmuan. Melihatlah seperti bayi, bukan orang dewasa. Sehingga kita dapat memahami palung terdalam pemikiran Heidegger mengenai sesuatu yang asali atau primordial dalam diri manusia.
Visinya adalah memahami manusia sedalam mungkin untuk menjernihkan gambaran yang kabur, karna “Ada”nya (manusia) sering terlupakan. Dan Kelupaan akan Adanya terjadi karna rutinitas yang manusia alami hadir begitu saja sebagai bagian dari apa yang dihayati sehingga menjadi hal yang lumrah.
Heidegger menitikberatkan dasar fundamental manusia untuk menyingkap Ada-nya (sein), meng-ada (seiend), meng-ada dalam dunia (Das sein) manusia dari realitas yang kabur. Hal ini dikarenakan rutinitas mencerabut manusia dari eksistensinya, yang membuat manusia menyadari bahwa ia berada dalam dunia begitu saja, faktisitas. Heidegger menyebut ini sebagai keterlemparan (geworfeinheit). Kita ada begitu saja, terlempar.
Rutinitas disini dapat diambil contoh dari yang paling sederhana. Misalnya, apa tujuan kita berkerja pada perusahaan tertentu hingga bertahun-tahun. Atau yang paling kompleks seperti, bagaimana manusia memaknai Ada-nya dalam kondisi peperangan, kemiskinan, chaos, dll.
Manusia memang berdiri sendiri dalam eksistensinya, tetapi ia juga menjadi bagian dalam dunia yang bermacam-macam, di tengah-tengah dunia sekitarnya. Dunia di sini tentunya tidak dipahami dari pengertian geografi, melainkan dalam arti sudut pandang yang dijalani manusia. Ber-Ada-nya manusia berarti mengambil jarak sekaligus tempat dalam segala yang ber-ada (seiend). Posisi inilah yang disebut eksistensi atau ber-ada dalam dunia (Dasein, tetapi ini bukanlah puncak eksistensi manusia, ini masih tahap awal untuk menentukan titik berangkat manusia.
Manusia dan “benda-benda” itu “bereksistensi”. Benda-benda dapat berupa apa saja selain manusia, seperti: tumbuhan, hewan, dan alat atau perangkat (Zeug). Benda-benda yang memiliki relasi dengan kita disebut zuhandes. Namun harus dipahami bahwa eksistensi manusia dengan lainnya berbeda. Cara manusia berada dalam dunia itu berbeda dengan cara benda-benda. “Benda-benda” tidak menemukan keberadaannya sendiri. Oleh karenanya, keberadaannya ditentukan manusia yang memaknainya.      
Sehingga “benda-benda” yang tadinya kosong akan makna, menjadi dimaknai ketika manusia membutuhkannya sebagai bagian dari aktifitasnya. Disini, “benda-benda” memperoleh pemaknaan dari manusia bahwa keberadaannya diakui sebagai bagian dari kehidupan manusia yang mempunyai fungsi (alat mengusahakan sesuatu). “Benda-benda” ini memperoleh makna pemeliharaan (besorgen) dari kepemilikan dunia oleh manusia.
Karena manusia memiliki dunia dan ber-ada di dalamnya, maka proses hubungan dengan manusia lainnya menjadi keniscayaan. Bersama-sama dengan manusia lainnya (Mitsein). Apabila bersama-sama ber-ada dalam dunia dengan manusia lainnya disebut mitdasein. Pemeliharaan terhadap manusia lainya disebut Fursorge, sebagai bentuk peleburan manusia yang memiliki keterkaitan hubungan antar yang ber-ada dalam dunia.
Menurut Heidegger, manusia dengan manusia lain dalam keseharian meskipun berhubungan memiliki cara meng-ada yang berbeda dengan manusia sesungguhnya. Manusia menyembunyikan dirinya yang sejati dengan tanpa bermaksud menipu diri, melainkan begitulah adanya sehari-hari. Maka cara keseharian seperti ini disebut Das man. Artinya, melarutkan diri dalam cara meng-ada orang lain.
Mengada (seiend)
Istilah sehari-hari
Cara Mengada
Sikap Dasein Sehari-hari
Zuhandenes
Alat-alat
Untuk sesuatu
Mengurus (besorgen)
Vorhandenes
Benda-benda yang bukan alat
Tersedia begitu saja
Tanpa minat manangani
Mitdasein
Sesama manusia atau orang lain
Ada bersama-sama (mitsein)
Memelihara (Forsorge)
Yang menarik, meskipun manusia agak terjebak dalam belenggu keseharian, dalam kondisi-kondisi tertentu, Dasein menyembulkan diri dalam dirinya. Namun, Dasein yang sebenarnya bukan ditemukan diluar keseharian, melainkan senantiasa ber-ada dalam kubangan keseharian itu sendiri. Jadi, larut akan keseharian sudah merupakan ciri Ada Dasein itu sendiri.
Di sini, Dasein harus waspada karena apabila kelarutan ini menjadi akut tanpa adanya kemungkinan untuk menyembulkan Dasien sendiri, maka ini disebut sebagai kejatuhan (Verfallenheit). Jatuh dari dirinya sendiri dan sebagai “Ada di dalam dunia” yang bersifat faktis.
Ketika Dasein jatuh dalam faktisitas, lalu bagaimana keluar dari keseharian dan menyadari Ada-nya? Menurut Heidegger, tak ada jalan lain selain melihat keseharian dengan cermat. Karenanya, Heidegger menyarankan membiarkan hati terbuka melihat Ada atau membiarkan sendiri Ada. Ketersingkapan (erschlssenheit) Ada merupakan ciri-ciri eksistensial Dasein.
Kita (manusia) dalam keseharian selalu menghayati suasana hati tertentu, baik sedih, marah, dsb. Itulah gerak hati (stimmung). Gerak hati mengantarkan ketersingkapan manusia ke dalam dunianya lebih jauh. Menghayati suasana hati, bagi heidegger, adalah suatu cara untuk melihat Ada.
Walhasil, suasana gerak hati yang mamahami bahwa ketersituasian Daseinadalah bahwa dasein itu terlempar ke dunia. Ini adalah suatu kewajiban imperatif. Terdapat perasaan yang dapat menguak faktisitas dan menyembulkan penyingkapan diri yang lebih dalam. Pertama, takut (furcht), ialah ketersituasian rasa yang mengancam dengan disertai objek yang mengikuti. Rasa takut yang mengganggu dapat mensistematisasikan faktisitas bahwa kita adalah “Ada di dalam dunia”. Tapi, rasa takut pun belum cukup untuk menyingkapkan ketersituasian dari keterlemparan Dasein.
Keberanian untuk hidup berarti berupaya memahami keterlemparannya. Tapi, memahami keterlemparanya berarti secara paradoks adalah lari dari faktisitas tersebut. Aku harus menemukan diri, dan penemuan itu ditemukan dalam pelarian. Upaya memahami keterlemparan berarti berupaya untuk membuka diri dari kemungkinan-kemungkinan dengan percakapan (rede) atau obrolan (gerede).
Tentunya percakapan atau obrolan ini bukanlah menggunakan bahasa verbal. Namun, menggunakan “bahasa eksistensial”. Adanya dialog yang mendalam tentang Ada-nya, sudah tentu akan mengguncang faktisitas dan rantai keseharian. Di sini seseorang tersebut telah membuka diri terhadap segala kemungkinan yang dapat terjadi pada dasein-nya.
Ketakutan sebagai bentuk ketersituasian rasa bisa saja kembali pada kejatuhan, larut dalam keseharian. Objeknya bisa saja hilang, berubah, atau berganti. Kecemasan (angst) sangat berbeda dengan rasa takut. Cemas berarti rasa ketersituasian tanpa objek. Karena cemas itu sendiri akan berhadapan dengan transparansi diri. Dengan kata lain, objek kecemasan adalah “Ada di dalam dunia” itu sendiri.
Alhasil, kecemasan disatu pihak adalah suasana hati yang menyingkapkan keterlemparan Dasein, dan dipihak lain adalah suasana hati yang muncul karena tersingkapnya keterlemparan itu sendiri. Jadi, kecemasan menguak kebebasan eksistensial kita. Menurut Heidegger, manusia justru melompat ke dalam kekosongan. Rasa cemas ini selalu dihayati ganjil, asing, tidak nyaman: orang tidak hanya terdampar pada ketiadaan, melainkan juga tidak dimanapun.
Tapi, karena kekosongan atau ketiadaan ituyang menentukan adanya, maka lompatan ke dalam kekosongan yang menimbulkan kecemasan bukanlah suatu nihilisme. Justru suatu kontak dengan Adanya yang menjadi sumber nikai-bilai. Karena dari keterlemparan itu Dasein bergerak dari pemahaman dalam rancangan untuk meraih kemungkinan-kemungkinannya.
Sikap yang menjadi akar-alar eksistensi suasana hati, merupakan sturktur total yang merangkum segala ketersituasian. Sikap ini Heidegger sebut Sorge, yang dalam bahasa Jerman berarti kekhwatiran, perhatian, kepedulian, dan pemeliharaan. Sorgeadalah keseluruhan Ada Dasein yang serentak memuat tiga hal; pertama, mengantisipasi masa depan; kedua, terlempar di dunia (faktisitas); ketiga, larut dalam keseharian (kejatuhan).
*penulis adalah mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tulisan ini dibuat sebagai pengantar serial diskusi Filsafat dengan tokoh Martin Heidegger, pada Selasa 02-06-2015 di Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci).
                                                                                                                       

Redaksi

Add comment