Formaci

Nietzsche: Filsafat Nihilisme


 
Saepul Yahya*
Tuhan Sudah Mati! tuhan-tuhan sudah mati (Nietzsche).
Itulah sepenggal diktum aforisme Nietzsche yang paling kontroversial, khususnya bagi kelompok agamawan Kristen. Apabila kita melihat latar belakang kehidupan Nietzsche, nukilan diatas sangat kontradiktif. Bagaimana tidak? Nietzsche yang lahir pada 15 Oktober 1884 di Rocken (Jerman) merupakan keturunan Kristen yang saleh; kakeknya merupakan seorang pejabat tinggi gereja Lutheran, bapaknya adalah pendeta yang taat dan ibunya adalah umat Kristen yang taat pula. Ironisnya, meski dikelilingi keluarga yang taat, dia menjadi ateis.  Hal ini menimbulkan pertanyaan, apa ‘gerangan’ yang membuatnya menolak Tuhan?
Dari beberapa literatur mengenai Nietzsche, terdapat empat fase kehidupannya. Pertama, masa ketika Nietzsche dibesarkan dalam kondisi kekristenan yang kuat. Pada masa ini, Nietzsche sempat memiliki tujuan untuk menjadi pendeta. Akan tetapi, tujuannya ini urung dilakukan setelah dia sekolah di Pforta.
Kedua,masa ketika dia menjadi seorang pelajar. Setelah lulus di Pforta, dia melanjutkan studinya ke Universitas Bonn. Akan tetapi, tidak berlangsung lama pindah ke Universitas Leipzig. Di Leipzig, dia berkenalan dengan tokoh-tokoh penting seperti, wagner dan Ritchl. Wagner adalah seorang musikus yang dikaguminya sejak di Pforta. Sedangkan Ritchl adalah professor yang membimbingnya di jurusan filologi.
Ketiga, masa ketika dia menjadi pengajar di Universtas Basel. Di kota ini dia mengajar selama 10 tahun. Akan tetapi terhenti karena kesehatannya yang memburuk. Keempat, masa ketika dia melakukan perjalanan ke beberapa tempat. Pada saat ini, dia melakukan aktifitasnya dengan diselimuti rasa kesunyian. Pada saat ini juga, buku-buku magnum opusnya dibuat. Pada tahun 1900, dia meninggal dalam kondisi mengenaskan.
Dalam paper ini, penulis akan menelanjangi pemikiran Nietzsche dengan memberikan pon-poin penting di dalamnya. Pertama, aforisme, merupakan gaya bahasa tulisan yang singkat dan tentu memiliki makna. Berbeda dengan filsuf-filsuf sebelumnya, hampir semua bukunya di buat dengan menggunakan aforisme. Hal ini berkaitan dengan pemikirannya yang menolak sistem. Baginya sistem mewajibkan kebenaran yang tidak dapat dipersoalkan lagi.
Kedua, nihilisme, adalah sebuah bencana yang pasti akan terjadi di dunia ini. Nihilisisme merupakan sebuah situasi dimana nilai-nilai yang sudah ada mengalami keruntuhan. Baik nilai-nilai agama maupun nilai-nilai ilmu pengetahuan tidak menjadi jaminan untuk kehidupan manusia. Dalam kondisi ini, manusia yang lemah akan menolak, sedangkan manusia yang kuat akan mengafirmasi dan berani mengatakan ‘iya’.
Ketiga, kehendak untuk berkuasa. Konsep ini termasuk sumbangan Nietzsche yang paling popular sekaligus inti dari pemikirannya. Namun sebelum membahas ini kita harus melihat pandangan Nietzsche mengenai dunia. Dia melihat bahwa dunia ini pada hakekatnya ganas, mengerikan, menakutkan, tidak memiliki keindahan, tidak adanya kebenaran, dsb. Nietzsche sering menyebut kondisi ini dengan chaos. Untuk menghadapi kondisi ini, manusia tidak boleh mencari perlindungan terhadap sesuatu di luar dirinya. Baik itu Tuhan, maupun tuhan-tuhan yang lain, seperti Rasio, Logika, roh dan lain-lain. Oleh karenanya, manusia harus berani menerima serta memiliki kehendak untuk mengatasi atau menguasai kondisi yang sedang terjadi.
Keempat, Ubermanch. Para penafsir berbeda istilah dalam menerjemahkan kata ini. Ada yang mengistilahkan superaman dan ada juga yang mengistilahkan dengan overman.Terlepas dari perbedaan tersebut, menunjukkan bahwa istilah ini sulit untuk dipahami. Dari kedua perbedaan tersebut, terjemahan manusia atas bisa diambil sebagai benang merahnya. Manusia atas menurut Nietzsche adalah manusia yang berani mengatakan “ya” kepada kondisi yang terjadi. Dunia memang kejam tetapi kita harus berani menerimanya.
Kelima, kembalinya sesuatu yang sama. Bagi Nietzsche ini merupakan susuatu hal yang menakutkan. Bagamiana tidak? Manusia akan mengalami hal yang sama di kehidupan selanjutnya. Dan Nietzsche mengakui sendiri bahwa ketika menemukan konsep ini, dalam kesunyiannya, dia meneteskan air mata. Pun demikian, Nietzsche lagi-lagi memberikan petuah bahwa kita harus menghadapinya.
Tulisan sederhana mengenai Nietzsche ini masih banyak yang belum penulis paparkan, seperti Apollonesian dan Dionisian, kedudukan manusia, tuhan-tuhan sudah mati dan sebagainya. Bukan sebagai penutup, penulis hanya ingin mengutip pernyataan terakhir Nietzsche “semoga tulisan ini tidak dapat di pahami oleh kau para budak-budak  karena jika dipahami akan menimbulkan “kengerian” dalam hidup saya”. 
*penulis adalah mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tulisan ini dibuat untuk bahan diskusi di Formaci dalam serial diskusi filsafat dengan tokoh Friedrich Wilhelm Nietzsche, pada tanggal 19 Mei 2015, pkl. 19.30 wib.

Redaksi

Add comment