Formaci

Nietzsche: Sang Ateis yang Humanis


Abdallah Sy*
Berbicara filsafat pada masa modern, Nietzsche merupakan salah satu filosof yang sangat diperhitungkan pada abad ke 19 setelah Hegel dan Karl Marx. Ia lahir di saat situasi Eropa sudah mencapai kematangan dalam modernitas. Ia hadir di tengah kemapanan berfikir dalam ilmu pengetahuan. Revolusi Perancis dan industri menghantarkan manusia pada gerbang kehidupan yang maju dalam pelbagai sendi. Semua orang menikmati impek dari kedua revolusi tersebut tanpa terkecuali sehingga masyarakat pada saat itu menganggap semua yang ada, baik dalam tatanan ilmu pengetahuan, kepercayaan, dan yang lainnya sudah berada di garis final dan menganggap semua itu adalah ideal. Nietzsche lahir dengan membawa gagasan yang baru, ia mencoba merekonstruksi semua tatanan yang ada. Ia memporakporandakan bangunan filsafat yang sudah kokoh yang pernah dirintis oleh para pendahulunya, pada masa kejayaan Yunani yang diawali Sokrates sampai pada masa awal hingga akhir masa keemasan abad modern yang diawali oleh Descartes, tanpa terkecuali pada abad pertengahan yang digaungkan oleh St. Augustinus dan Thomas Aquinas. Nietzsche malah berfikir sebaliknya, ia menganggap mereka terlalu dangkal dan kaku dalam berfilsafat, ia menganggap lagi mereka tidak ada kebebasan berfikir karena mereka sudah terikat dengan sistem yang ada. Bagi dia, mereka menerima suatu sistem tanpa dipikirkan kembali.
Sang Pemberontak
Berangkat dari kegelisahan itu, Nietzsche memberontak dengan apapun yang ada di sekelilingnya sampai hal yang menyangkut keyakinan terhadap Tuhan, nilai, sistem, dan semua tatanan kehidupan, ia pertanyakan kembali. Sejatinya ia adalah orang yang sejak kecil taat terhadap aturan agama Kristiani, ia tumbuh dan berkembang dalam kesopanan yag diajarkan ibunya. Jiwa seninya sudah terbangun sejak bersentuhan dengan pemikiran Wagner, sang seniman kenamaan pada masa itu. Ia mulai menggeluti filsafat ketika secara tidak sengaja menemukan buku kecil yang ditulis oleh Schopenhauer, yang berjudul Die Welt als Wille und Vorstellung. karya ini sangat mempengaruhinya sehingga ia mulai meninggalkan kepercayaannya dan titik awal menjadi seorang ateis.
Lebih jauh, ia mendambakan tatanan masyarakat yang ideal yang pernah terjadi pada masa Yunani kuno pra-Sokrates. Dalam bayangannya, manusia pada era pra-Sokrates adalah manusia yang unggul dalam pemikiran, dan sumbangsihnya sangat besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan seperti Thales, Herakleitos, Permenides dan yang lainnya. Hematnya, para filosof inilah yang memiliki pemikiran yang genuine(murni), mereka merumuskan ilmu pengetahuan langsung bersentuhan dengan alam dan menginterpretasikannya dengan kehendak mereka tanpa ada sistem yang mengikat. dengan kebebasan berfikir mereka menciptakan ide-ide filsafat yang sungguh mengagumkan. Tak ayal, pada masa itu ia sebut sebagai “Republik para Jenius”.
Seutuhnya, ia menentang gagasan yang diawali oleh Socrates dan tokoh-tokoh setelahnya. Karena baginya, mereka terikat dengan sistem yang mereka klaim sesuatu yang universal atau absolut. Seakan-akan mazhab rasionalisme, empirisme, kritisisme, idealisme dan materialisme adalah suatu hal yang sudah baku yang selalu menjadi pilihan manusia dalam cara berfikir dan memperoleh ilmu pengetahuan tanpa dipikirkan kembali. Bukan hanya itu saja, ia juga mengkritik agama Kristen karena agama, menurutnya, dianggap sebagai proposisi dari dekadensi yang dilahirkan oleh adanya dominasi keuniversalan tersebut. Maka pada gilirannya ia mencoba membunuh dominasi-dominasi tersebut yang pertuhankan oleh manusia. Ia menganggap dominasi yang menjadi penyebab dekadensi baik dalam kepercayaan agama, seperti Tuhan Allah dalam Kristiani maupun dalam ilmu pengetahuan adalah Tuhan-tuhan, bagi mereka yang harus dibunuh dan dimusnahkan. Sehingga dalam karyanya, Also Spracht Zarathustra, ia bekisah tentang orang gila yang lari-lari mengitari pasar di siang hari dengan membawa lilin, “…. Allah sudah mati….Dan kita telah membunuhnya…..”
Warisan Nietzsche
Pada dasarnya sumbangsih Nietzsche dalam filsafat lebih pada moralitasnya. Berangkat dari pemberontakannya terhadap sistem, ia tidak merumuskan filsafat dengan dibangun atas dasar silogisme yang digagas oleh Aristoteles atau dialektika yang dirumuskan Hegel. Ia berfilsafat lewat aforisma, tidak pula menyimpulkan gagsannya secara utuh apalagi menggap universal dan kemudian dipertuhankan, melainkan mempersilahkannya kepada pembaca untuk menyimpulkan sendiri. Ilmu pengetahuan secara epitemologi ia yakini sebagai intrumen atau media untuk mencapai apa yang disebut dengan “kehendak untuk berkuasa” (der Wille zur Macht). Ilmu pengethauan sejatinya, baginya, sebagai alat untuk menundukkan sesuatu bukan untuk menangkap kebenaran absolut. Karena pada esensinya, ilmu pengetahuan adalah untuk menciptakan tatanan atau konsep yang senantiasa berubah (Werden) atau menjadi yang kemudian menjadi Sein (Ada).
Lebih detail lagi, baginya, ilmu pengetahuan melahirkan interpretasi yang objektif dan subjektif. Ia tidak percaya dengan interpretasi objektif karena itu merupakan sebatas fiktif. Ia meyakini interpretasi subjektif karena harus sesuai dengan kebutuhan seseorang, yaitu untuk menundukkan kekuasaan.
Secara esensial, konsep “kehendak untuk berkuasa” (der Wille zur Macht) itu didasarkan pada konsep mentalitas. Nietzsche membagi mentalitas ke dalam dua bagian. Pertama, mentalitas tuan (Herrenmoral), mental seorang tuan adalah kehendak bagi drinya, tidak ada paksaan dalam tindakannya. Kedua, mentalitas budak (Herdermoral), mental sorang budak ialah menyesuaikan kehendak tuannya. Si budak tidak memiliki kebebasan untuk bertindak. Intinya, yang baik bagi budak adalah yang baik bagi tuan dan sebaliknya. ini menunjukkan tidak ada kedaulatan bagi diri si budak. Pemberontakan pada diri seorang budak secara mental (saya tekankan kembali; secara mental) adalah sebuah keunggulan dan adanya independenitas dalam diri si budak itu sendiri. Hal inilah yang mengantarkan pada derajat yag disebut dengan Manusia Atas (Ubermensch). Konsep kedua mentalitas itu sejatinya bisa dilacak dengan bercermin pada kebudayaan Yunani Kuno yang berasal dari konsep dewa anggur (Dionysion) yang selalu memabukkan dan Apollonian (dewa matahari).
Secara maknawi, Makna Manusia Atas (Ubermensch) itu merupakan cita-cita Nietzsche dalam konsep manusia yang ideal, dimana dalam tataran praksis, konsep ini akan melahirkan sikap yang berada di tengah atau rata-rata (meminjam istilah islam, “Tawassuth”), sikap ini akan memporakporandakan mentalitas budak yang tidak ada kedaulatan bagi dirinya. Konsep Manusia Atas ini dapat diraih dengan menjungkirbalikkan nilai-nilai seperti sudah dipaparkan di muka. Lebih ekstrimnya, menolak Tuhan dalam Kristiani dan sistem nasionalisme yang dianggap suatu sistem yang baku pada saat itu dan booming di Eropa. Dengan tanpa menafikan, nasionalisme bukanlah suatu tujuan melainkan sarana untuk mencapai Manusia Atas. Manusia Atas adalah sosok manusia yang ideal yang sekan-akan kembali ke era Yunani kuno pra-Socrates.
Sejauh bacaan penulis, di saat manusia sudah mencapai Ubermensch (Manusia Atas), ada sebuah fase dalam dirinya yaitu keadaan ekstase yang merasakan hidup tanpa makna dan menafikan nilai-nilai yang ada yaitu yang disebut nihilisme. Akan tetapi, Manusia Atas pada saat mengalami ektsae itu mampu mengatasinya meskipun hidup tanpa sandaran apapun karena nilai-nilai yang ada dianggap ilusi yaitu dengan mengatakan “Ya” terhadap kehidupan ini (Ja-Sagen). Meskipun hidup dalam penderitaan, kepedihan, kesakitan, dan lain sebagainya, tapi manusia dapat mengamini keadaan itu dan menerima sepenuhnya. Ini, bagi Nietzsche, yang dinamakan dengan nihilisme aktif.
Terlepas dari keyakinannya, bagi penulis, hal di atas itu adalah konsep penyerahan diri secara total tanpa mengeluh dalam menghadapi hidup, ini yang dalam Islam disebut “Ikhlas”. Gus-Dur selalu membahasakannya dengan slogan “Gitu Aja Kok Repot”. Hemat penulis, sikap humanis yang diwariskan Nietzsche kepada kita. Dan manusia terus berproses (berikhtiar) atau Werdenuntuk mewujudkan eksistensinya (Sein). Dan warisan yang terakhir adalah konsep sejarah yaitu dengan istilah Supra sejarah. Artinya, manusia harus belajar dari sejarah dengan mengambil yang baiknya (Historis, Geschichtlicht) dan meninggalkan yang buruknya (Ahistoris, Ungeschichtlicht) untuk dijadikan ‘ibrah (Cermin) dalam kehidupan di masa yang akan datang (Suprahistoris, Ubergeschichtlict).
*penulis adalah mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tulisan ini dibuat untuk bahan diskusi serial filsafat dengan tokoh Friedrich Wilhelm Nietzsche di Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci) pada 1 Februari 2014 pkl. 19.30 wib.

Redaksi

Add comment