Formaci

Pengantar Pemikiran Herbert Marcuse

Marcuse lahir di Berlin pada tahun 1898. Di tahun 1922 ia menyelesaikan studi germanistiknya,kemudian pada tahun 1928 ia belajar filsafat kepada Edmund Husserl dan Martin Heidegger. Ia hidup pada zaman di mana Jerman saat itu sedang dikuasai oleh Nazi di bawah pimpinan Adolf Hitler. Beliau adalah seorang tokoh yang memiliki karir akademik yang cemerlang,diantaranya ia bekerja di institut penelitian sosial di Frankurt, kemudian bekerja pada Russian Research Center, lalu sempat menjadi professor bidang filfasat di Brandeis University  Boston, dan mendapatkan gelar professor di San Diego California.

Selama hidupannya,ia sempat menulis beberapa judul buku diantaranya adalah Soviet Marxism, ACritical Analysis, An Essay on Liberation, Counterrevolution and Revolt, The Aesthetic Dimension, Eros and Civilization, One Dimensional Man.

Eros dan peradaban: utopi suatu masyarakat baru

 

Buku pertama yang membuat Marcuse menjadi terkenal adalah Eros and Civilazation. Dalam karyanya ini, ia bertolak dari teori Sigmund Freud mengenai perkembangan peradaban manusia.Marcuse menjelaskan bahwa meskipun menurut Freud peradaban niscaya mengandaikan penindasan, perkembangan tenaga-tenaga produktif oleh kapitalisme kini telah membuka kemungkinan suatu kebudayaan yang tidak lagi menindas, dimana hubungan antar manusia akan ditentukan oleh eros (saling keterkaitan) dan pekerjaan akan menjadi mirip dengan aktifitas iseng.

Dasar pengandaian teori Freud tentang masyarakat adalah bahwa peradaban manusia didasarkan pemasungan atas seksualitasnya. Hanya dengan tidak terus mengikuti nafsu seks manusia dapat mengumpulkan kekuatan untuk membangun kehidupannya.  Hanya dengan menempatkanseksualitasnyadari satu sisi pojok sempit kesibukan sehari-hari ke ruang sempit privasi di malam hari, manusia mempunyai waktu untuk bekerja guna menjamin kebutuhanpangan juga sandang, danlama-kelamaan bisa membangun lingkungan kehidupannya sendiri. Dengan demikian, pengekangan hawa nafsu menjadi asal-usul peradaban manusia.

Prinsip psikologi Freud adalah menyesuaikan diri dengan realitas atau akan tertindas!. Hal ini, di masa kapitalisme tuasudah menjadi prinsip prestasi. Karena prinsip ini kelihatan rasional, orang bersedia memberikan prestasi yang dituntut, ia bahkan menata seluruh hidupnya demi prestasi tertinggi. Prinsip prestasi bahkan mengusai kehidupan pribadi manusia. Orang bangun pagi hari, pergi ke tempat kerja, setelah bekerja pulang ke rumah, beristirahat, memenuhi kebutuhan seksualnya, berlibur, iseng-iseng, semuanya sesuai dengan prinsip prestasi. Marcuse memberi komentar bahwa manusia tidak lagi menjalankan hidup mereka sendiri, melainkan memenuhi fungsi-fungsi yang sudah ditetapkan sebelumnya. Prinsip prestasi berarti bahwa penindasan tetap ada, tetapi tidak dirasakan sebagai penindasan. Justru orang bersedia menyesuaikan diri dengan tuntutan sistem kapitalis, dan merasa bahwa penyesuaiannya itu merupakan sebuah prestasi.

Manusia berdimensi satu

Inti kritik Marcuse terhadap masyarakat industri maju adalah bahwa di dalamnya dimensi negative disingkirkan. Dalam semua masyarakatsebelumnya, selalu ada dua dimensi: dimensi afirmatif dan dimensi negative. Dimensi afirmatif terdiri atas semua unsur yang membenarkan dan mendukung sistem kekuasaan yang bersangkutan. Sedangkan dimensi negative terdiri atas unsur-unsur yang menantang struktur-struktur masyarakat, misalnya karena mereka merasakan diri diperlakukan dengan tidak adil. Unsur-unsur yang melawan itu dengan sendirinya ingin mengubah sistem kekuasaan yang ada.

Di Dimensi negatif ini, Marcuse berpendapat bahwa kekuatan dari dimensi negatiflah yang menentukan perkembangan pemikiran dan dengan demikian memajukan masyarakat. Namun berbeda dengan masyarakat sebelumnya,masyarakat industri maju berhasil mengintegrasikan unsur-unsur negatif sedemikian rupa sehingga malah medukung sistem. Rahasia masyarakat industrimaju adalah suatu keberhasilan ganda, ia menciptakan produktivitas luar biasa dan standar hidup yang semakin tinggi. Maka pertentangan kelas era dulu pun menghilang, kaum borjuis dan proletar dipersatukan oleh kepentingan untuk mempertahankan dan memperbaiki status quo. Maka dalam masyarakat industrimaju tidak ada unsur revolusioner lagi, ini tidak berarti bahwa tidak ada oposisi. Oposisi tetap ada, tetapi tidak lagi perlu ditindas, karena sudah tidak lagi mengancam kekuasaan, dan justru mereka menjadi unsur dalam sistem yang ada. Dengan demikian, semua ekspresi masyarakat industri maju  menjadi afirmatif, membenarkan dan memperkuat sistem kekuasaan yang ada.

Budaya dan seni

Menurut Marcuse, seni dan budaya tinggi hidup dari oposisi terhadap faktualitas, dari perlawanan terhadap yang terberi. Sastra roman dan karya seni memiliki kekuatan magis untuk menunjukkan cacat dalam pengalaman sehari-hari. Roman memberi nama-nama kepada fakta-fakta dan kekuasaan fakta-fakta itu ambruk, roman merongrong pengalaman sehari-hari dan menunjukkan bahwa pengalaman itu cacat dan palsu. Tetapi seni mempunyai kekuatan magis itu hanya sebagai kekuatan untuk membantah. Seni hanya dapat melakukan fungsinya selama gambar-gambar yang menentang dan membantah tatanan yang ada masih hidup. Tetapi, masyarakat industrimaju mengosongkan kekuatan magis itu. Kemajuan rasionalitas teknologis sedang menyisihkan unsur-unsur oposisional dan transenden dalam kebudayaan tinggi. Ini terjadi karena seni dan budaya tinggi diintegrasikan kedalam sistem sehingga dimensi kritis mereka hilang. Dengan demikian, unsur-unsur kritis sebuah karya seni dijinakkan karena unsur seni yang lain. Sifat seni yang selalu berada di seberang, mengejutkan, menentang, menyeleweng sudah diserap menjadi pendukung kenyamanan sistem masyarakat kapitalistik.

Fauzan Jamal

Penulis adalah mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tulisan ini disarikan dari buku Dari Mao ke Marcuse: Percikan Filsafat Marxis Pasca-Lenin karya Franz Magnis-Suseno dan dipresentasikan pada serial diskusi Mazhab Frankfurt di Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci) tanggal 13 Oktober 2015, pkl. 19.00-selesai.

Add comment