Formaci

Perilaku Manusia dan Lingkungannya

Cendhy Vicky*
Sebagai seorang psikolog, tentu saja pemikiran Skinner tidak terlepas dari pengaruh pemikir-pemikir sebelumnyayang pada akhirnya melahirkan suatu persfektif baru,persfektif ini kerap disebut Behaviorisme (perilaku). Inilah yang dikaji secara serius oleh Skinner.
 
Prinsip ini secara sederhana adalah suatu gagasan bahwa bagian dari internal subyek dapat menentukan apa yang ingin subyek lakukan tanpa adanya keterpengaruhan daridunia luar (eksternalnya). Pandangan ini juga menolak para pemikir-pemikir sebelumnya,yang percaya bahwa manusia mempunyai kehendak bebas (otonom).
 
Burrhus Frederic Skinner dilahirkan pada 20 Mei 1904 di Susquehanna, Pennsylvania, US. Skinner mempunyai seeorang ayah yang bekerja sebagai pengacara. Skinner dewasa melanjutkan studi bahasa Inggris di universitas Hamilton College. Meskipun agak tersendat-sendat, namun Skinner berhasil meraih gelar sarjana muda di universitas tersebut pada 1926.
 
Tidak berhenti sampai di situ, ia melanjutkan kuliahnya di universitas Havard jurusan Psikologi, dan fokuspada tingkah laku hewan. Setelah lulus, Skinner banyak mendapat penghargaan dari lembaga-lembaga ternama atas penelitiannya.Inilah yang membuat karirnya melejit hingga menjadi Guru Besar psikologi. Beberapa pemikiran besarnya tertuang dalam buku: The Behavior of Organisme, Walden Two, Science and Human Behavior, dll.
 
Sebagai behavorialis, Skinner dengan jelas menolak mentah-mentah anggapan dari  para psiko-analisa. Baginya, jika memahami kepribadian individu (subjek) hingga ke “dalam” jiwa manusia, maka yang akan ditemukan adalah kebuntuan dan kemustahilan. Dimana proses objekifikasi dan empiris tidak dapat dilakukan.
 
Hasilnya, hanyalah “gumaman” teoritis yang cenderung mengarah padaperdebatan tanpa ujung. Perdebatan ini jika dikomparasikan antara cabang ilmu psikologi dan sosiologi, lagi-lagi, akan terjerembab ke arah perdebatan klasik. Yakni, apakah individu yang menentukan dirinya sebagai makhluk yang berkehendak bebas (agen)? Ataukahditentukan oleh lingkungan sosial (stuktur), apakah agen? Apakah struktur?
 
Dasar teori dan metode penelitian Skinner adalah pendekatan-pembelajaran-perilaku. Dalam metode ini, ia berasumsi bahwa setiap manusia adalah makhluk yang senantiasa untuk belajar. Artinya, bahwa manusia sebagai individu cenderung untuk mengikuti tata perilaku disekitarnya. Dari sini Skinner memformulasikan tata perilaku menjadi dua: responden dan operan.
 
Perilaku responden adalah kondisi dimana stimulus (perangsang) mempengaruhi respon organisme. Stimulus dan respon yang muncul bukanlahbertujuan untuk mempengaruhiorganisme melakukan perilaku tertentu. Justru cenderung memberikan stimlus dan respon yang alamiah.
 
Selanjutnya,tingkah laku operan adalah hasil yang diterima dari tindakan yang dilakukan oleh manusia. Konsekuensi logisnya, dimana ketika tindakan menghasilkan sesuatu yang positif baginya, maka tindakan tersebut akan dilakukan terus-menerus.
 
Namun, apabila tindakan ini dilakukan dan mendapat hasil negativ, maka tindakan tersebut dihentikan. Seperti halnya dalam film IQ Enstein (2004), ada seorang dokter yang mempunyai tikus penelitian di laboraturiumnya. Tikus tersebut berada di dalam kandang yang mempunyai dua pengait: satu berwarna merah dan lainnya berwarna biru. Pengait berwarna merah, apabila disentuh maka makanan masuk ke dalam kandang. Sedangkan pengait biru, apabila disentuh maka tikus itu akan tersetrum.
 
Tapi dengan mudah tikus tersebut selalu menyentuh pengait berwarna merah. Karna apabila disentuh akan menghaslikan respon yang positif, yaitu keluarnya makanan. Namun, tikus tersebut kadang menyentuh pengait berwarna biru (daya kejut). Keanehan ini, tidak semata-mata langsung menghasilkan daya kejut sebagai penguat negativ, yang membuat tikus tersebut menjadi jera.
 
Ternyata, yang membuat tikus tersebut kadang menyentuh pengait berwarna biru justru memicu munculnya efek rangsangan, yang membuat tikus tetap menyentuh pengait biru. Dengan demikian, penguat negativ mulai bergeser menjadi penguat positiv seiring dengan respon yang berubah pula.  
 
Selanjutnya, apa yang disebut sebagai tingkah laku tahayul (behavioral belives) adalah tindakan yang membuat individu melakukan perilaku “irrasional”. Skinner percaya mengapa perilaku tahayul ini masih diyakini banyak orang untuk dilakukan, karena adanya pengalaman masa lalu dan sensasi,dimana ketika perilaku ini dilakukan dan menguntungkan dirinya maka individu tersebut akan melakukannya secara berulang-ulang.
 
Dalam menjelaskan perilaku manusia, Skinner membagi dua pemerkuat: primer dan sekunder. Pemerkuat primer adalah respon yang tidak diperoleh dari proses belajar. sedangkan penguat sekunder adalah stimulus yang diberikan kepada manusiayang belum pernah mendapatkan sebelumnya.
 
Selain dengan cara yang positifuntuk merubah perilaku manusia, ada juga polalain yang bisa membentuk perilaku, yakni dengan cara memberi hukuman. Metode pemberian hukuman ini kerap disebut stimulus aversif. Tujuannya sama, yaitu membentuk perilaku manusia agar serupa dengan lingkungan sekitarnya.
*penulis adalah mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tulisan ini dibuat sebagai bahan diskusi Serial Tokoh Psikologi: Skinner, pada Rabu 30 April 2014 di Fomaci.

Redaksi

Add comment