Formaci

Probabilitas dan Skeptisisme

Emha S. Asror*
 
 
 
“Rasio adalah budak nafsu”
Walaupun situasi dan kondisi zaman pencerahan memungkinkan perkembangan ilmu pengetahuan begitu pesat, begitu juga dengan filsafat. Namun, berbanding terbalik dengan itu semua, otoritas agama masih sangat kentara pada saat itu. Pun yang dirasakan Hume semasa hidupnya, dimana sebagian besar peperangan terjadi dilatarbelakangi oleh agama.
  
Demikianlah sebagian faktor yang ikut membentuk sikap skeptis Hume (1711-1776 M) terhadap agama, dan sikap skeptis inilah yang merubah seluruh pandangannya mengenai kehidupan hingga menyangkut ilmu pengetahuan.
 
Semangat zaman pencerahan juga ikut menyumbang beberapa pemikiran Hume, zaman dimana rasio manusia dimaksimalkan sehingga memungkinkan seseorang untuk melepaskan diri dari otoritas lain di luar dirinya; wahyu ilahi, nasihat para ahli, otoritas gereja, atau negara.
 
Dilahirkan di Edinburgh yang masih termasuk teritorial Skotlandia di bawah kekuasaan kekaisaran Britania Raya yang memiliki corak pemikiran empirisme, Hume mencoba menawarkan pemikiran empirisme sedikit berbeda dengan empiris-empiris pendahulunya.
 
Seperti biasanya, pemikir belakangan niscaya menolak bahkan menyerang pendahulunya. Pun begitu dengan Hume. Dia menyerang terhadap tiga front pemikiran. Pertama, yang khas dari pemikir empirisme pada umumnya, menentang ajaran rasionalistis yang berasumsi bahwa pengetahuan manusia berasal dari idea-idea bawaan.
 
Kedua, menyerang ajaran-ajaran religius, baik dari kalangan yang mengaku adanya Tuhan sekaligus melembagakan dirinya dalam agama, ataupun yang hanya mengimani adanya Tuhan tanpa beragama (deisme) yang percaya ide kausalitas. Ketiga, memberontak terhadap para pemikir empirisme itu sendiri yang masih mengakui adanya substansi.
 
Ide-ide perlawanan Hume di atas berakar dari ketidakpercayaannya terhadap produk ilmiah, seperti yang telah dicatatnya dalam bukunya A Treatise of Human Nature, yang menurutnya kebenaran bersifat pasti dan mutlak tak tergugat. Dia menawarkan gagasan bahwa pentingnya produk ilmiah agar tetap dicek atau dikontrol kembali.
 
Walaupun tawaran Hume tidak terhitung baru, tapi paling tidak dia memberikan alasan berbeda dari pemikir-pemikir empirisme yang lain. Bahwa rasio adalah budak nafsu yang dengan hal ini produk apapun darinya, akumulasi tersebut kurang lebih bersifat kemungkinan (probabilitas).
 
Sekali lagi, karena produk ilmiah, menurutnya, bersifat kemungkinan. Maka hal ini tidak menutup kemungkinan adanya kesalahan maupun kekeliruan yang belum terjamah akal, sehingga memungkinkan untuk digugat kembali secara radikal dengan menyiapkan pendapat-pendapat baru yang lebih bisa dipertanggungjawabkan.
 
Sikap inilah yang kemudian hari dikenal dengan gagasan skeptisisme. Namun, dari penjelasan itu semua mengenai Hume, menurut penulis, yang tidak boleh dilewatkan juga bahwa moral sentimen (perasaan moral) adalah hal terpenting.
 
Dengan ajaran etika ini dia menjelaskan bahwa manusia tidak perlu mengenal agama jika hanya ingin mengenal kebaikan. Karena kebaikan menurutnya telah tertanam dalam setiap diri manusia.
*penulis adalah mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tulisan ini dibuat untuk bahan diskusi di Formaci, serial diskusi filsafat dengan tokoh David Hume. Pada tanggal 21 April 2015 pukul 19.30 wib.     
       
  
      
   

 

Redaksi

Add comment