Formaci

Zionisme: Sejarah dan Doktrin


Pengantar

Suatu kebanggaan bagi kami dapat menghadirkan Mas Sahal untuk memberikan kajian menarik tentang Zionisme.  Kami mengundangnya karena tahu ia adalah salah satu pakar Zionisme di Indonesia, bahkan mungkin di Asia. Dan dengan mengundangnya kami berharap mendapat pencerahan yang berlebih dalam memahami dan memberikan sikap terhadap Zionisme tersebut. Terlebih masyarakat Indonesia, khususnya mahasiswa UIN  yang konsen terhadap Zionisme, dengan adanya diskusi ini tentu akan memperkaya pemahaman mereka.
Sejak pertama merencanakan diskusi ini, kami dengan keyakinan penuh bahwa tak sedikit yang berminat, dan benar, ruangan yang luas pun tak mampu menampung peserta yang hadir.  
Tulisan ini hanya ringkasan singkat dari beberapa hal yang disampaikan oleh Mas Sahal dalam diskusi yang bertema “Zionisme: Sejarah dan Doktrin” . Dengan adanya ringkasan ini, mudah-mudahan peminat tema Zionisme yang tak sempat hadir dapat pula menikmati paparan dari Mas Sahal, meski tentu tak semuanya dan sedetail apa yang dipaparkan oleh pembicara.
Sejarah Zionisme
Apakah Zionisme dan Yahudi itu sama? Kalau berbeda, apa sebenarnya Zionisme itu? Mengapa istilah yang “menakutkan” itu lahir? Dalam konteks penjajahan terhadap rakyat Palestina, apakah hanya Zionis atau semua bangsa Israil ikut andil menghancurkan Palestina? Terus bagaiamana sikap kita seharusnya terhadap Zionisme? Beberapa pertanyaan itulah kira-kira yang dijawab dan dijelaskan secara detail oleh Mas Sahal.
Secara historis kelahiran Zionisme tidak bisa dilepaskan dari sikap Eropa modern (Kristen yang dimaksud) yang begitu diskriminatif terhadap kaum Yahudi. Janji yang diberikan Napoleon  akan adanya perlindungan dan pemberian hak yang sama dengan Kristen terhadap kaum Yahudi, jika mereka keluar dari ghettonya (semacam kantong-kantong wilayah) dan melebur, serta royal terhadap negara, ternyata meski mereka menyambut dengan antusias janji Napoleon tersebut, sikap antisemitisme Eropa terhadap kaum Yahudi tidak berhenti. Kaum  Yahudi terus-menerus ditindas dan dianggap the other (sang lian) oleh Eropa.
Dalam konteks itulah Zionisme lahir. Mengutip pernyataan Mas Sahal, Zionisme lahir akibat “cinta tak bersambut”. Cinta yang dimaksud adalah cinta kaum Yahudi terhadap janji-janji yang disampaikan oleh Eropa Modern yang menjanjikan keadilan dan kesetaraan, tak pernah direalisasikan.
Menariknya, meski kaum Yahudi terus-menerus  didiskriminasi, dari mereka ada yang terus berjuang mendapatkan hak-haknya dimana mereka tinggal, Jerman, Prancis dan negara yang lain, sebagian dari mereka menolak membangun sebuah negara baru yang tersatukan oleh ras mereka, bangsa Yahudi.
Sebagian yang lain percaya bahwa keadilan pada diri kaum Yahudi tidak akan pernah terjadi jika sebuah negara baru tidak didirikan. Kelompok terakhir inilah yang disebut dengan Zionisme.
Jadi, apakah Zionisme itu pasti Yahudi? Bukan. Zionisme adalah kelompok garis keras dalam Kaum Yahudi yang percaya akan doktrin Yahudi sebagai “bangsa terpilih”. Sebagian kelompok Zionisme memahami “bangsa terpilih” sebagai bangsa yang berhak menguasai tanah-tanah yang dijanjikan. Dan itulah mengapa mereka hingga saat ini terus-menerus mencoba “menjinakkan” tanah Palestina. Karena baginya, Palestina dan Arab secara umum adalah “tanah tanpa bangsa untuk bangsa tanpa tanah”.
Jika boleh diibaratkan, Zionisme adalah ISIS-nya Islam, yaitu kelompok garis keras yang merelakan dirinya berlumuran darah demi tujuan yang ingin mereka raih. Di dunia Barat mereka dianggap the other(sang lian) dan di dunia timur mereka menjadikan Arab sebagai the other (sang lian). Dalam arti, kini Zionisme menjadi Baratnya Arab.
Aliran dalam Zionisme
Sebagaimana dalam Islam, Yahudi bukanlah faham yang tunggal, pun dengan Zionisme. Meski secara umum Yahudi, dan Yahudi yang menganut faham Zionisme khususnya, kecewa  terhadap Eropa modern yang diskriminatif, tetapi respon mereka berbeda-beda. Sebagian ada yang menginginkan untuk mendirikan sebuah negara, tetapi tak sedikit pula yang menolaknya.
Pertama, Zionisme ortodoks. Aliran inilah yang paling vokal menyuarakan pentingnya pendirian sebuah negara. Mereka meyakini satu-satunya cara untuk mengatasi aksi diskiminatif adalah dengan mendirikan sebuah negara sendiri. Tanpa itu, aksi diskriminatif yang telah berlangsung puluhan bahkan ratusan tahun tersebut tidak akan pernah berakhir.
Kedua, Zionisme Marxis. Aliran yang kedua ini meyakini pendirian sebuah negara bukanlah solusi yang tepat Karena ketidakadilan yang terjadi pada kaum Yahudi tersebut merupakan salah satu dampak dari kapitalisme modern. Tokoh yang paling terpandang dari Zionisme Marxis ini adalah Leon Trotsky. Baginya, pendirian sebuah negara justru dianggap sebagai langkah mundur karena akan terjebak kembali dalam nasionalisme etnis yang sempit.
Langkah yang tepat untuk mengatasi sikap antisemitisme adalah dengan mengintegrasikan perjuangan kaum proletar dalam melawan kapitalisme. Alasannya, bahwa antisemitisme bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri melainkan terkait erat dengan pendirian kapitalisme tersebut. Karena itu, mereka percaya di saat kapitalisme runtuh, antisemitisme dengan sendirinya terkubur.
Terakhir, adalah postzionisme. Aliran yang terakhir ini pada awalnya sepakat dengan Zionisme ortodoks, yaitu mendirikan sebuah negara menjadi syarat penting untuk mengatasi aksi diskriminatif Eropa modern. Tetapi mereka tidak seperti  Zionisme ortodoks yang setelah mendirikan sebuah negara dan mencita-citakan keadilan serta perdamaian justru menjadi bangsa kolonial baru. Ini terlihat dengan fenomena yang telah berlangsung lama, yaitu penjajahan mereka terhadap rakyat Palestina.
Postzionisme agak bersikap antipati terhadap Zionisme ortodoks tersebut. Mereka meski bersemangat mendirikan sebuah negara baru, tetapi ketika cita-cita pendirian negara telah tercapai, tidak ada lagi alasan lagi untuk menghancurkan bangsa yang berbeda dengan mereka.
Sikap Pada Zionisme
Setelah memahami akan keberagaman dalam kaum Yahudi dan dalam Zionisme itu sendiri, lantas sikap seperti apa yang seharusnya kita lakukan? Apakah dengan terus-menerus berteriakan di lapangan tapi tanpa hasil? atau berperang seperti yang dilakukan Hamas yang juga tak membuahkan hasil, atau bagaimana?
Menjawab pertanyaan seperti itu bukanlah perkara mudah. Tetapi sebagaimana pengalaman para aktor-aktor yang  menentang Zionisme dengan cara terus-menerus berperang, apalagi yang hanya berteriak marah-marah, rasanya sulit untuk mengatasi konflik yang terus-menerus terjadi tersebut, apalagi tanah Israil bukan hanya dihuni oleh bangsa Zionisme, tetapi juga Islam, Kristen, dan juga agama-agama yang lain. Ini tentu menjadi problem tersendiri ketika melancarkan serangan ke tanah Israil karena kemungkinan besar yang tertimpa bukan hanya bangsa Zionisme tetapi juga umat-umat yang lain.
Kemungkinan solusi yang dapat dirumuskan adalah dengan cara kompromi. Meski tak semudah yang dibayangkan, tetapi berdasarkan pengalaman sejarah bangsa-bangsa terjajah tak selalu menyelesaikan dengan cara perang melainkan ada kompromi yang berlangsung. Sebagaimana pengalaman bangsa Indonesia, meski banyak yang revolusioner dalam berperang melawan kolonialise Belanda, namun tak sedikit pula tokoh yang menyerukan pentingnya kompromistis.

Ahmad Fedullah

Add comment